Iwas Invisible

Iwas Invisible

  • WpView
    LECTURES 122
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Chapitres 2
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication sam., août 26, 2023
Infisible adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupanku.Aku tidak benar- benar di anggap oleh lingkungan tempatku berada, karena posisiku berada jauh di bawah saudara kembarku yg hebat dan punya segalanya. Oleh karena itu,aku memutuskan untuk menganggap diriku tak terlihat. Aku selalu iri dengan saudara kembarku. Dia memang pintar dan layak mendapat pujian. Tapi aku juga ingin di puji,aku ingin namaku seharum namanya, aku ingin punya bakat yang bisa membanggakan orang tuaku. Aku tidak yakin apakah suatu saat namaku juga akan bersinar seperti namanya, tapi jauh di dalam kesadaranku, aku yakin bahwa aku punya bakat yang terpendam. Lihat saja,aku akan membuktikan kepada dunia bahwa aku bisa sehebat dia!
Tous Droits Réservés
#105
naura
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • DI BALIK BAYANGAN
  • DEAR MYSELF ACCEPTANCE [END] ✅️
  • Instagram Sakura [Tamat]
  • Tak Harus Sama!
  • Delicate ✓
  • Alone (SELESAI)
  • RINTIHAN TERAKHIR DI UJUNG OMBAK
  • CATATAN HARIANKU

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu