Kita yang Dikebumikan

Kita yang Dikebumikan

  • WpView
    Reads 52
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sat, May 27, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Karena ini bukan negeri dongeng, maka setiap apa yang kamu ingin tidak mungkin sampai sehabis berkedip, tidak ada labu tua yang akan berubah jadi kereta kuda, terlebih ibu peri dengan sayap mungil mendatangimu dan memberikan permintaan sebanyak tiga. Tetapi, Ranum bersikeras menghidupkan dongengnya dengan dalih tidak ada yang mustahil selagi belum mencoba. Gadis yang gemar melukis serta membaca, kerap menghabiskan cat air dan melusuhkan tembok rumah. Ibunya selalu marah dan menarik ia keluar seolah kepala bersungut dua. "Aku bakal berhenti suka sama kamu, tapi bukan sekarang." Itulah kalimat yang ia ucapkan sewaktu kelas dua SMA kepada tuan tanpa kuda, tanpa lencana juga baju prajurit kerajaan, karena dia hanya seorang pribumi yang gemar menulis dan berkunjung perpustakaan daerah. Sengkala Darmawangsa, laku dan perangainya kerap menjadikan objek lukis gadis itu. Sketsa yang ke-20 menjadi penutup dari kisah dongeng tanpa labu, tanpa peri, dan tanpa tuju. Ranum menepati janjinya.
All Rights Reserved
#2
prosais
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MY HOPE IS YOU (END)
  • JAM 3 SORE
  • Peta Langit
  • When The Wings Fall
  • Sunyi yang Menyatukan
  • Alkara ( Terbit)
  • Aksara Lingga
  • Garis Singgung Dua Dimensi (END SEASON)
  • Tubuh Ini Milikku Lagi

Dia periang tapi tidak senang, dia gembira tapi juga penuh luka. Hanya berbagi kisah bahagia tanpa kesedihan. Menceritakan kasih sayang yang penuh damba. Munafik? menutup kesedihan dengan kebahagiaan? Menunjukkan "Aku kuat aku bisa, ya aku mampu!. Apa jadinya bila semua itu terjadi pada perempuan yang mendiskripsikan dirinya sendiri seperti paragfraf diatas? Dia tidak terlihat bergoyang ketika bagian patahan kayu yang kokoh itu menggores tubuhnya. Masih berdiri tegak menantang siapa lagi yang akan menenggelamkan dia dalam badai ini. Kisah yang akan di bagikan menceritakan tentang bagaimana hidupnya mulai berjalan seiring waktu yang memaikan perasaannya. Rupanya dia tidak sekuat yang dibayangkan. Goresan patahan itu ternyata meninggalkan bekas yang tidak terlihat namun dapat dirasakan. Mulai mencari penompang mencari siapa yang bisa menyanggah tubuhnya berdiri tegak kembali. Siapa seseorang itu yang bisa menyembuhkan lukanya yang ternyata kian melebar. terlalu lama ia pendam sendiri sampai tidak sadar dirinya sudah mulai rapuh dan terkikis. "Kamu? ia kamu, tolong bawa dia kembali rangkul dia sekuat mungkin, lettakan tanganmu didadanya seraya berkata " semua akan baik-baik saja".

More details
WpActionLinkContent Guidelines