Prolog. Aku tidak pernah membayangkan akan bertemu dengannya lagi bahkan aku tidak benar-benar mengingat jika dia ternyata pernah menjadi bagian dari hidupku. Jangankan berharap untuk bersamanya, mengingat namanya saja sulit bagiku. Tapi setelah pertemuan itu, aku tidak ragu untuk menjatuhkan hatiku padanya. Aku tidak mungkin salah memilih seseorang kali ini. Jika takdir ini sudah menuntunku padanya maka kupikir tidak ada salahnya mencoba. Yang menjadi masalah sekarang adalah akankah dia mau menerimaku di saat hatinya sudah milik yang lain? Akankah aku berhasil merebut hati itu kembali? Karena aku sangat yakin, sejak awal hatinya itu memang hanya untukku. Itu adalah milikku. Aku akan merebut kembali apa yang pernah menjadi milikku. ...
Detail lengkap