"Kata seorang sastrawan, Supardi Djoko Damono, Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan, tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang." Ucap damar sembari menadah air hujan.
"Tapi Jakarta tak ubahnya neraka. Sudah banyak yang diambilnya, mungkin selanjutnya aku yang akan diambil dari kamu," Yanti menekuk lututnya menahan rasa dingin.
"Jika itu terjadi, maka akan aku kenang kamu dan Jakarta untuk selamanya," Damar
********************************************
Diberinya malam-malam penuh ketakutan
Diberikannya tiap lamgkah yang penuh keraguan
Dibiarkan kegelisahan
Dibiarkannya keputus asaan
Banyak yang didengar, banyak yang dipikirkan
Banyak yang telah terjadi, enggan lah untuk menyesali
Banyak melihat langkah yang membuatku jengah
Berderai tangis sederas hujan
Sedingin pelukan malam
Di balik dinding yang memiliki mata dan telinga
Beralas lantai tempat berdansa dan berinjak ria
Doa demi doa dipanjatkan, harapan diturunkan
Akan ku ingat hari dimana aku meminta kepada tuhan agar hujan sore itu terasa lebih nyata dari sebelumnya,
Agar angin sore itu tak terlewat begitu saja dalam ingatan.
Pintaku bukan lagi tentang tujuan
Pintaku sesederhana abadikanlah rasa sakitnya, rasa takutnya.
Pintaku hadirkanlah senyata ketika terjadi, jangan dikurangi.
Pintaku ingatkanlah aku selalu tentang genggaman, tangis dan jeritan di ruang kala itu.
Sekali lagi, pintaku, abadikanlah ingatan pada fase luar biasa ini, agar semisal suatu saat aku sampai di suatu tempat, aku menjadi aku, tetap aku.
Sekali lagi, aku ingin aku tetap menjadi aku
Todos os Direitos Reservados