berpisah || Renjun x Ningning

berpisah || Renjun x Ningning

  • WpView
    Reads 169
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 5, 2023
WpInfo
Non-Fiction
ini tentang aku, kamu, dan taman waktu itu Prolog "Ini kita tidak bisa mengulang nya sekali lagi?" ucapku sambil menundukkan kepala. "Sudah tidak bisa ji" jawab Malio dengan tegas. "Lantas untuk apa takdir mempertemukan kita?" Kataku dengan air mata yang mulai mengalir "Takdir mempertemukan kita untuk saling menjaga bukan bersatu" dia mengangkat kepalaku sambil mengusap air mata yang mengalir "sudah jangan menangis" "Lo siapa? Ngapain deket-deket" tanya Jiya dengan lirih. "Kenalin gw Naka yang paling ganteng seantero sekolah " bilang tuh cowok dengan pdnya. "Lo anak baru?" Tanya Jiya kembali. "Dih kagak gw dah dari kelas 1 di ini sekolah, mungkin emang Lo aja yang ga pernah liat gw" bilang cowok itu. "Emang Lo pernah liat gw?" Tanya Jiya, emang si jiya ini demen banget nanya-nanya ya..... "Hai sayang, kamu udah makan belum? Kalo belum nih roti buat kamu, kalo udah tetep di makan ya" bilang cowok di samping gw, yang gw tau dia di fakultas ekonomi. "Dih kok kamu maksa gitu sih" bilang gw(Jiya), tiba-tiba temen-temen gw pada dateng ke kantin fakultas ilmu komunikasi fisip. "Berdua an Mulu bro" kata si Kenzo cowok jawa itu emang medok ya. "mereka kalo ga berduan sehari aja pasti meriang" kata dara. hallo ini author disini aku cuma mau bilang kalo ini kisah aku, aku buatin cerita karena aku merasa tertarik aja gitu sama kisahnya
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Amor Eterno
  • THE CLIMB [Completed]
  • 36 days with you {saida} [End]
  • Misi Kalisa (End)
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • [NCT DREAM] Seven Boys In My Life || arasweetstrawberry ✔
  • Destiny said. {BERSAMBUNG}
  • East sky first love
  • Arsyilazka

"Lo mau hubungan kita jadi kayak apa, Harlen?" Qila menghentakkan tangan pria itu, lalu menoleh cepat dengan sorot mata tajam. Suaranya bergetar-bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang sudah terlalu lama disimpan. "Aku... aku pengin hubungan kita jadi lebih serius," jawab Harlen pelan, nadanya seperti memohon. "Serius?" Qila tertawa miris. "Serius kayak gimana? Kayak lo yang tiba-tiba udah punya tunangan tanpa bilang apa-apa ke gue?" Harlen terdiam, tak sanggup membalas. "Atau lo mau gue jadi simpanan, gitu? Tapi sayangnya, Harlen, gue bukan cewek murahan kayak gitu," lanjut Qila sambil memutar bola matanya, malas sekali menatap wajah pria di hadapannya. "Bukan gitu maksud gue..." Harlen mencoba meraih tangan Qila lagi, tapi kali ini pun langsung ditepis. "Gue capek dengar omongan lo yang manis-manis tapi ujung-ujungnya nyakitin. Lo bilang pengin serius? Lo bilang pengin perkenalin gue ke orang tua lo? Please, Harlen. Udah telat." "Qila, tolong dengerin dulu..." "Cukup." Qila menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang hampir meledak. "Ini terakhir kalinya kita ketemu. Setelah ini, gak akan ada lagi 'kita'. Gak sengaja ketemu pun, gue harap itu gak akan pernah kejadian. Gue muak liat muka lo." Langkahnya cepat, pergi meninggalkan Harlen yang masih berdiri mematung di tempat. Tapi Harlen belum menyerah. "Qila! Tunggu, dengerin dulu!" Namun Qila tetap berjalan, masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di pinggir jalan. "Jalan, Pak," ucapnya pada sopir. Taksi pun mulai melaju. Dari kaca belakang, bayangan Harlen terlihat masih mengejarnya, berteriak, memanggil namanya. "QILAAAA!" Tapi Qila tak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada apa pun di belakang yang layak dilihat kembali. Dalam hati, ia berbisik, Maaf, Harlen... tapi kali ini aku benar-benar udah gak sanggup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines