Kekerasan Domestik

Kekerasan Domestik

  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 3, 2023
Era musim gugur tak selalu menyanjungkan dengan kehangatan. Begini contohnya, "Sejak awal ketika disidangkan, saya hanya minta diadili. Janganlah engkau jaksakan saya, janganlah saya dihakimi. Sebab, diri ini hanya ingin diadili," ujar seorang terdakwa yang hendak dilanjuti kasusnya pada tanggal 17 Juni 1971. POLITIK ITU kadang keras. Bukan keras lagi, Bung! Melainkan kekasarannya sudah menjadi makanan sehari-hari. Kompetisi dalam politik tak semata-mata untuk menghadiri kompetisi, tetapi dari sini kita dapat meminjam tangan non-politik untuk melakukan dorongan. Sungkan untuk percaya? Biarlah kekerasan domestik yang bercerita... Inilah kisahnya. London 1970;
All Rights Reserved
#7
moriartythepatriot
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TIME will TELL {On Going}
  • harapan yang pupus
  • I'm the Antagonist's
  • Scarlet eyes and Red hood girl
  • Cinta Berbalut Puisi
  • Kata Ilham
  • Tilly's New Diary
  • ˖ ֹ੭୧ 𝐓𝐡𝐞 𝐑𝐞𝐝 𝐅𝐥𝐨𝐰𝐞𝐫 𝐏𝐚𝐭𝐡⊹ ࣪ ⑅ || 𝐌𝐓𝐏 𝐱 𝐑𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫 ||

"Selamat Tinggal." Itulah ucapan terakhir yang ia dengar sebelum sebuah benda pipih dan tajam menikam jantungnya. Mata berwarna jingga layaknya api yang berkobar itu menatap kearah sang pelaku yang menatapnya dengan tatapan kosong. "Sialan kau...seandainya saja...kau tidak pernah dilahirkan dan fakta bahwa kau adalah adikku..." "Kiamat ini tidak akan pernah terjadi." Pedang yang ada di tubuhnya ditarik keluar membuatnya tersungkur di lumpur yang sudah digenangi oleh darahnya sendiri. Melihat bahwa lawannya sudah lumpuh si 'adik' itu pun pergi meninggalkan si 'kakak' menghembuskan napasnya untuk terakhir kalinya. ■□■□■□■□ Mata jingga itu terbuka lagi, kini di depannya ada sebuah jam besar yang jarum jamnya tidak berdetak sama sekali. "Apa yang akan kau pilih, nak? Menyerah dan mati disini atau mengulang kembali waktu yang telah kau sia-siakan?" "Kembalikan aku agar aku bisa menebus kesalahanku yang dulu." "Senang mendengarnya~" □■□■□■□■ Apakah anak itu bisa melakukan perjalanannya? Rintangan apa yang akan ia lalui selama melakukannya? Hanya waktu yang akan menjelaskannya nanti. ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||| Karakter di cerita ini milik @Monsta. Dan video+gambar yang aku cantum bukan milikku. Aku hanya meminjamnya. Maaf jika ada kesalahan kata atau kekurangan. Silahkan berikan kritik dan saran untuk membantu meningkatkan kualitas novel ini. ♡Selamat Membaca♡

More details
WpActionLinkContent Guidelines