Bisakah kalian bayangkan jika kalian mempunyai musuh dari kecil dan tidak pernah berdamai dengannya? Jangankan untuk berdamai, menegur pun tidak pernah kecuali untuk beradu mulut. Bagaimana jadinya ketika musuh kalian tiba-tiba pergi begitu saja dan tidak pernah kembali? Itulah yang dirasakan Andrea, wanita yang sering dipanggil Aya ini memiliki musuh bebuyutan dari dia masih duduk dibangku TK dan musuh tersebut hilang saat mereka duduk dibangku SMP? Dan bagaimana jadinya musuh tersebut kembali lagi saat mereka sudah beranjak remaja? Apakah Andrea mengingat dia lah musuh yang dulu sering membuatnya darah tinggi?
More details