El Es Mi Destino

El Es Mi Destino

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 25, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Penyebab self harm, Memiliki trauma akan peristiwa tertentu di masa lalu. Dari kondisi tersebut, self harm bagi seseorang yang melakukannya akan dianggap sebagai cara untuk melupakan kejadian traumatis tersebut. Memiliki gangguan mental tertentu, seperti depresi, psikosis, autisme, dan lain sebagainya. Jika seseorang mempunyai anxiety, apakah dia harus di kucil kan? apakah dia harus di jauhi? apakah dia harus terus menerus di rundung? untuk apa? gunanya untuk apa?. Mental itu bukan permainan, jika yg sakit fisik akan sembuh jika di obati. Mental juga akan sembuh, apakah kalian tau kapan dan bagaimana cara menyembuhkannya. Tentang seorang gadis yang mempunyai penyakit mental, sejak usia 11 tahun. Yang bertahan hidup dengan tetap menjadi orang baik dan tidak memiliki rasa dendam. Dan di mana ia di pertemukan dengan seseorang yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Dan mengubah hidupnya dengan penuh makna.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • C
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • Hopeless
  • Sunflower
  • Self Injury's(complete)✔
  • Rumah Orang Mati
  • SAVE MY SELF
  • My Second Life (Completed)
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Menyerah atau Bertahan?
C

"Drama banget hidup gue. Bahkan sinetron azab pun tidak semenyedihkan ini, sial." Gadis itu menunduk, melihat ke bawah dengan tatapan kalut. Kemudian ia menatap ke atas langit, hujan, tak ada bintang. Hanya ada langit gelap yang sesekali menjadi begitu terang karena kilatan petir. "Mak, kenapa nggak ajak Clara sekalian, sih?" lirih gadis itu membiarkan air hujan menerpa wajahnya yang penuh luka lebam. Bahkan tetesan air di tangannya berubah menjadi kemerahan, bercampur dengan darah. Ia tak menangis, lebih tepatnya sudah lama ia tidak bisa menangis. Sebelum memutuskan keluar di tengah hujan lebat, ia menikmati kesendirian yang menyakitkan di emperan ruko tak jauh dari jembatan ini. Sendiri yang begitu sakit karena dadanya yang sesak dan tangannya yang tak berhenti mengeluarkan darah yang bersumber dari sayatan yang ia buat sendiri. Ia kembali menundukkan kepala. Memejamkan mata erat, membiarkan rasa sakit fisik dan mentalnya bersatu dengan gumuruh suara petir. Mungkin, ini terkahir kalinya ia menikmati rasa sakit itu. Karena ia memilih untuk, menyerah. "Lo gila?!" Gadis itu membuka kembali matanya, tangannya semakin terasa perih karena terbentur aspal jembatan. Tak lain karena dorongan pemuda yang saat ini menatap tajam ke arahnya. Ia mengerjap bingung. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. "Lo mau bunuh diri, hah!?" Sentakan pemuda itu membuat dia sadar, ia gagal. Gagal untuk mengakhiri penderitaannya malam ini. Menyadari hal itu membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Entah ia harus bersyukur atau justru menyalahkan pemuda yang saat ini berjongkok di hadapannya. Pemuda yang membuat percobaan bunuh dirinya malam ini gagal total. Jadi ia masih harus melanjutkan hidupnya yang menyedihkan ini?

More details
WpActionLinkContent Guidelines