We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Abang || Mark Lee [END]

Abang || Mark Lee [END]

  • WpView
    Reads 7,403
  • WpVote
    Votes 428
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadComplete Wed, Feb 7, 2024
WpInfo
Fanfic
TOMORROW X TOGETHER (TXT)
"aku tak punya banyak cinta, namun aku akan membagikan semua cintaku pada mereka yang berhak bahagia" -Mark Lee Keluarga yang bisa dianggap jauh dari kata 'cemara'. Mark harus tinggal dengan seorang ayah yang dalam tanda kutip 'kasar'. Lebam? Sudah menjadi hal biasa dalam hidup seorang Mark Lee. Tujuan ia masih hidup hanya untuk menjaga keenam adiknya dan bersama Lucas, Changbin, dan Yeonjun. Namun sialnya Mark harus kehilangan Lucas dan itu juga karena ulahnya. Ia sangat di hantui oleh rasa bersalah namun seiring berjalannya waktu ia mulai bisa berdamai hal dengan itu. Dan keenam adiknya yang mulai melewati masa remaja mereka juga sudah mulai 'melewati batas' serta kurangnya sopan santun. Highest rank #1 tomorrowxtogether #1 kpopidol #1 99line
All Rights Reserved
#52
tomorowxtogether
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • EROR
  • NOMIN-MARKHYUCK | Est-ce que t m'aimes ?
  • Cemara milik kita || nct dream (Terbit)✔
  • [1] Stranger | Na Jaemin  [REVISI]✔️
  • Shorts: Lee Cute Jeno [Selesai]
  • Step Brother~NCT~ [END]✓
  • DREAM HOUSE
  • Bumblebee {Nohyuck} Going To Season 2

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines