Hiraeth
  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 5, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Melihat rumah orang lain yang berantakan juga sebuah memori buruk bagi seorang. ◇◇◇ Hari demi waktu dijalani, menuntun hati agar tetap percaya pada sebuah rumah yang indah tempat pulang ternyaman. Namun ternyata, tidak ada rumah yang sempurna, ada rumah yang atapnya bocor, tembok yang lembab, lantainya retak dan berbagai kerusakan kecil yang terjadi pada sebuah bagunan rumah. Sama halnya rumah yang aku maksud, tidak ada yang sempurna berbagi luka pun terukir didalamnya menjadi sebuah penguat untuk pemiliknya dan nanti akan dijadikan contoh pada generasi selanjutnya. Dari cerita ini kita akan banyak menukan rumah-rumah dengan berbagai masalah yang ada. Tidak ada yang lebih indah jika pemikiran kita hanya tentang keburukan, jadi terima setiap yang diberikan kepada kamu dan nikmatilah tanpa mengeluh. haii ini cerita pertama aku maaf kalau penulisnya masih berantakan:) selamat membaca♡
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RUANG DEPRESI [ END ]
  • Menyerah atau Bertahan?
  • 𝐁𝐫𝐨𝐤𝐞𝐧 𝐇𝐨𝐦𝐞? {𝐄𝐍𝐃}
  • Rintik Hujan
  • AKU TAK PERCAYA CINTA, AYAH! (TAMAT)
  • ECCEDENTESIAST (COMPLETED)
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • RAPUH!

"Tolong ceritakan padaku, bagaimana rasanya mempunyai keluarga yang utuh? Tolong jelaskan padaku, bagaimana rasanya hidup tanpa setitik luka yang menerpa! Aku ingin bahagia seperti mereka! Walau hanya satu kali saja!" Cinta dan Luka sama-sama Zeline rasakan, tetapi luka itu hadir lebih unggul daripada rasa cinta yang nyata, bukan hanya omong kosong tidak berguna saja. Ruang Zeline sepi, ruang Zeline kelam, bantu Zeline keluar dari ruang depresi. Zeline tidak pernah merasakan, bagaimana rasanya disayang, dimanja, dan diperhatikan. Hari demi hari, detik demi detik, yang Zeline nanti yaitu perdamaian kedua orang tuanya. Zeline merasa banyak kurangnya, Zeline menginginkan ketulusan yang sebenarnya, bukan hanya kata permainan perasaan saja. Sejak kecil, beranjak remaja Zeline menyaksikan perseteruan itu masih saja terasa. Rasa sesak terasa di dalam dada, seketika atmanya mulai merasa bahwa diri ini tidak ada apa-apanya. Bahkan sampai nafas berakhir sekalipun, Zeline akan terus berusaha untuk menerimanya, sampai Sang Maha Kuasa berkata. "Waktunya beristirahat dengan tenang." Ditulis oleh: CALGHIFARI Start: 25 November Finish: (?)

More details
WpActionLinkContent Guidelines