Anjani Halleyna, seorang gadis yatim piatu yang tinggal di panti asuhan sejak lahir. Selama di panti, ia akrab sekali dengan anak laki-laki bernama Arman. Usia mereka terpaut lima tahun. Anjani sudah menganggapnya sebagai kakak, atau mungkin lebih.
Arman selalu menjaga Anjani selama di panti, bahkan ia sendiri yang menyaksikan gadis itu saat baru lahir dan harus kehilangan orang tuanya.
Saat Anjani berulang tahun yang ke-10, tiba-tiba saja sepasang suami istri datang ke panti untuk menjemput Arman, yang ternyata adalah orang tua kandung Arman.
Saat hendak meninggalkan panti, Arman berjanji akan sering-sering datang mengunjungi Anjani dan juga meneleponnya. Bahkan Arman juga berjanji kalau mereka akan bersama-sama saat dewasa nanti.
Namun sudah berhari-hari, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun Anjani menunggu, Arman juga tak kunjung datang. Ia juga tak tahu bagaimana kabar Arman.
Hingga akhirnya, mereka tak sengaja bertemu kembali 15 tahun kemudian di tempat Anjani bekerja. Pria itu malah bersikap dingin, cuek, dan pura-pura tak mengenalinya.
Sebagai yatim piatu, Anjani menjalani hidup yang tak mudah. Apalagi ketika ia harus keluar dari panti. Tak hanya Arman dan keluarganya saja yang tak menyukainya, tapi juga teman-teman kantor Anjani yang sering membicarakannya di belakang. Untung saja masih ada Mona, sahabat Anjani dan juga ibu panti, Bu Dewi, yang selalu ada di sisinya.
Seorang gadis kecil yang tinggal di sebuah panti asuhan. Ia sangat senang hidup bersama dan tumbuh bersama di panti itu.. walau keberadaan orang tua nya tak ada yang mengetahuinya ia tak terlalu mengharapkan keluarga karena ia hidup bahagia dengan penghuni dipanti termasuk bunda Rani yang merupakan pengurus panti tersebut. Beberapa tahun kemudian banyak anak anak yang diadopsi oleh beberapa pasangan suami istri,, gadis ituu juga menginginkan keluarga baruu namun ia tak terlalu memikirkannya. Tak lama setelah yang lain diadopsi datanglah sepasang suami-istri yang ternyata pemilik panti asuhan tersebut.Clarissa yang hidupnya ia kira akan bahagia selamanya setelah sekian tahun hidup di panti, kini harus menelan pahitnya kehidupan yang serasa bagaikan ribuan pedang tajam menusuknya. Ia kehilangan keluarga yang baru saja ia dapatkan dan dirinya juga harus merelakan sahabat karibnya yang senantiasa bersamanya di suka dan duka sejak di panti asuhan. Segi kehidupannya berubah 180° berbanding terbalik dengan kehidupannya dulu meskipun ia berada di panti. Di hatinya memendam seribu dendam yang menyayat jiwa dan raganya tanpa ia sadari bahwa semua yang telah terjadi padanya masih berporos pada dirinya.