Princess in Vampire castle

Princess in Vampire castle

  • WpView
    Reads 135,941
  • WpVote
    Votes 3,698
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 4, 2012
Tatapan matanya mengerikan seakan ingin menerkam diriku . Dia memamerkan gigi putihnya dan mendesis sehingga menunjukkan taringnya. Makhluk apa ini ? Mengerikan ! . Menakutkan ... Tapi juga membuat jantungku berdetag cepat . Aku ingin berlari dari tempat ini , tapi kedua kakiku tidak ingin sedikitpun , kedua mataku tidak ingin berhenti menatap makhluk mengerikan yang tampan ini . Aku bingung seakan kedua keinginan berbeda bergejolak dalam diriku . Dia semakin dekat kearahku . Aku semakin takut tapi lama kelamaan aku juga semakin ingin dia mendekat . Deg...! Saat wajahnya dan wajahku hanya berjarak beberapa cm. Kini wajahnya yang putih dan pucat terlihat semakin jelas . Ia menyunggingkan senyumnya kepadaku , tapi bagiku dia seperti memamerkan gigi - gigi taringnya. Perlahan dia memerengkan kepalanya dan semakin mendekat ke arah leherku . Apa yang akan dilakukannya ? . Apa dia ingin menggigitku ? . Wajahnya semakin dekat...dekat...dekat dan...
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Kecil dengan 5 Teman Bermain Tak Kasat Mata
  • Antagonist Princess [SUDAH TERBIT]
  • Sweet But a Little Psycho (COMPLETED✔)
  • Villain : I'am the Main Character {END}
  • LOST STARS
  • Where am I?
  • Stay (Away)
  • Edgar Vaske
  • My Friend Is My Strength
  • I Was The Evil Witch

Saat aku masih kecil-sekitar usia tiga tahun-aku belum mengerti bedanya mana yang nyata dan mana yang tidak. Dunia terasa seperti tempat bermain yang luas, dan aku menghabiskan banyak waktu di rumah karena musim hujan. Suatu hari, aku bertemu seorang anak kecil seumuranku berdiri di depan rumah. Kami bermain, tertawa, seperti teman biasa. karena aku masih kecil secara otomatis tidak mengetahui teman ku ini ternyata sesosok yang tak kasat mata dan anehnya hanya aku yang bisa melihat 'dia', teman pertama ku. Yang paling aku ingat adalah sosok ular besar yang muncul di dekat rumah. Bukannya takut, aku malah mendekatinya dan mengusap sisiknya. Aku bahkan sempat bicara dengannya-dan dia menjawab dengan lembut, "Ojo wedi ya nduk cah ayu. Aku uduk kewan seng jahat. Aku mung kepengen dulinan karo putuku seng ayu iki." Aku tidak tahu waktu itu kalau semua itu tidak biasa. Aku hanya seorang gadis kecil yang merasa punya teman bermain. Tapi semakin aku tumbuh, semakin aku sadar... mereka tak pernah benar-benar pergi. Inilah kisah tentang tempat aku tumbuh. Tentang lima teman yang tak kasat mata. Tentang hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika-tapi nyata bagiku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines