We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Yarali
  • WpView
    Reads 493
  • WpVote
    Votes 42
  • WpPart
    Parts 42
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 30, 2023
WpInfo
Non-Fiction
Ternyata menjadi diri sendiri adalah sebuah kesalahan. Menceritakan tentang Shafana, seorang anak sulung yang jiwanya di matikan berkali-kali oleh orang tuanya sendiri. Belum cukup sampai di situ saat usianya belum genap 14 tahun kehormatannya direnggut secara paksa oleh orang yang ia yakini tidak akan pernah mematahkan hatinya. Bahkan setelah ia tak lagi memiliki alasan untuk bertahan hidup, semua orang meninggalkannya. Termasuk kedua orang tua yang selalu menyalahkannya tanpa pernah bertanya "apakah kamu baik-baik saja".
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Puing luka
  • ON REMEMBERING
  • PHILIA -Story Of Viera- ( END )
  • If I Die, Will You Listen?
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (END)
  • Teruntuk Luka [Completed]
  • Unspoken Things Over Dinner Tables
  • Keano
  • Dibawah atap yang salah (hiatus)
  • Sederet Luka Untuk Indira (Sudah Terbit)
  • Peluka(n) [END]
  • ECCEDENTESIAST (COMPLETED)
  • The Quiet Orchestra
  • Kesedihan [SELESAI]
  • KALAH ✔

"Malam itu menjadi awal dari mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan." Aluna kehilangan segalanya dalam satu malam-rasa aman, harga diri, dan harapan. Ia hancur oleh luka yang tak terlihat mata, tapi mengoyak jiwanya habis-habisan. Kehamilan yang datang dari pemerkosaan membuatnya ingin menyerah. Namun dalam reruntuhan hidupnya, ada dua hal yang terus menahannya agar tetap berdiri: keluarga yang tak pernah berhenti mencintai, dan janin kecil dalam rahimnya yang menjadi alasan untuk bertahan. Sejak itu, Aluna membenci laki-laki. Ketakutannya begitu dalam, hingga setiap tatapan dan suara laki-laki bisa membuat tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak bisa menolak kehadiran laki-laki itu-sosok yang bertanggung jawab, yang tak pernah pergi, yang terus mengirim bunga, hadiah, dan surat-surat haru berisi penyesalan serta doa. "Aku tahu aku tak bisa menghapus malam itu. Tapi setiap langkah yang kamu ambil hari ini, adalah langkah keberanian luar biasa. Kamu tidak sendirian." - A. Hari demi hari, tembok kebekuan di hati Aluna mulai retak. Bukan karena dia lupa, bukan karena dia memaafkan dengan mudah, tapi karena perlahan, ia mulai membuka diri terhadap kemungkinan: bahwa tidak semua luka harus berdarah selamanya. Akankah Aluna mampu menghadapi masa lalunya? Mampukah ia membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupnya lagi-meski dari kejauhan? Sebuah kisah tentang luka, keberanian, dan cinta yang lahir dari kehancuran. Untukmu yang sedang berjuang: kamu tidak sendirian.

More details
WpActionLinkContent Guidelines