Dear tama
  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 1, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
"Dear you. Surat ini aku tujukan untukmu, laki-laki baik dan juga sederhana. laki-laki yang memiliki senyum manis dan suara merdu yang meratukan gadisnya dengan penuh kasih. laki-laki yang suka bernyanyi, senang bermain gitar, dan juga menyukai kopi, sama sepertiku. Terima kasih atas tawarannya. Terima kasih atas kisah indah yang tak pernah kusadari akan menjadi bagian yang begitu membekas di atma ku. Ini, untukmu. Aku ingin menuangkan satu kisah yang entah kapan akan kutemukan lagi manusia sepertimu. Ini kenanganku, tentangmu dan hidupku." --------------------------- Tahun 2019 "Hallo!" "Hai. lagi apa?" "Hah? ini siapa? Tantri bukan?" "Kok Tantri? Aku laki-laki, Kalandra!" "Oh ahaha astaga. Kak Tama? lho kok suaranya kayak perempuan, ya?" --------------------------- "Kalandra! Hei! Kamu kenapa? Kok diem aja dari tadi" "Kaget, soalnya baru pertama kali tangan aku di pegang sama cowok," ucap Kalandra masih dengan pandangan lurus ke depan dengan mata berkedip-kedip seperti anak kecil. Mata bulatnya terbuka sempurna. "Hfft. Lucu ya tuhan, gemes astaga. Ya udah, mulai sekarang aku bakal sering pegang tangannya, biar terbiasa," jawab laki-laki itu sambil mengelus pucuk kepala gadis nya. ---------------------------- "Ini ice cream nya. Maaf ya cuma segitu. Nanti aku bawakan yang lebih banyak kalau udah ada uang. Dimakan, ya." "Iya." ----------------------- Tahun 2021 "Kenapa Ndra? Kamu udah janji sama aku, tolong jangan kayak gini." suara isak tangis terus terdengar. Sementara Kalandra, gadis itu sedang berusaha menahan suara agar tetap datar. "Maaf aku nggak bisa, janjinya aku batalin." "Ndraaa aku nggak mau, aku nggak mau Ndra." Suara isak tangis itu semakin terdengar sakit di telinga Kalandra, dia lalu melangkahkan kaki, dan pergi dari tempat itu sembari mengepalkan kedua tangannya. "Maaf."
All Rights Reserved
#150
lugu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sailing With You [END]
  • East sky first love
  • ON SIGHT (Completed)
  • ARGA [TAMAT]
  • Rara [ Proses Penerbitan ]
  • AL - TA [END]
  • Silent, Please! (Re-up)
  • Rannia√
  • "MY BOY MY ENEMY" (ON GOING)
  • VAGALDARA [TERBIT]

Perjalanan kisah cinta Gara seorang naval architect muda dengan Arunika mahasiswi magang yang bekerja membantunya. Siapa sangka pertemuan takdir itu mengungkap kisah masa lalu yang dipenuhi kesalahpahaman. Akankah bahtera Gara dan Arunika bisa terus berlayar di antara badai yang menerjang ? ..... Ceklek Sontak Gara menoleh. Dengan panik dia berlari namun naas kakinya tergelincir cairan licin di lantai. Tubuh Gara oleng tak seimbang namun dia berhasil menstabilkannya dengan gerakan reflek yang ia lakukan. Arun berkedip-kedip melihat pemandangan di depannya. Dia memang tak asing melihat cowok bertelanjang dada. Ardi sepupunya selalu begitu saat di rumah ketika gerah. Begitupun teman-temannya saat di kelas sehabis pelajaran olah raga. Tapi yang ia lihat kini Gara. Suaminya. Yang masih untouchable. "Mas Gara ngapain nari sambil handukan gitu ?"ceplos Arun menyembunyikan debaran di balik ekspresi heran. "Hah ?! Aku nggak lagi nari, Arun. Ini hampir jatoh" What the hell !!! nari ? Arun ngira gue nari ?! Masa gue tadi gemulai ? Padahal kehormatannya sebagai suami hampir di ujung tanduk begitu. Untung saja dirinya tidak jatuh tengkurap di hadapan Arun. Syukurlah hari ini masih bisa jaim (jaga image) "Oh.." Arun tak ambil pusing dan berjalan mengambil alat pelnya. ..... "Nama urus belakanganlah. Cari ukurannya dulu. Dihitung dirancang dulu. Baru dikasih nama." "No !!! Nggak bisa gituu. Bagi gue kapal itu udah kaya anak. Jadi ya kasih nama dulu baru dirawat dan dibesarkan sepenuh hati" terang Shofi. "Ya kan sebelum anak lahir lo harus bikin dulu. Ngidam dulu. Lahiran dulu. Baru dikasih nama" "Hmmmm....begitu ya" Shofi manggut-manggut membenarkan perkataan Arun. "Eiiiits....bentar-bentar. Bikin dulu ?! Ngidam dulu ?!" Ulang Shofi. "Tumben lo ikutan gak jelas nanggepin metafora gue" heran Shofi. Arun tersadar. Mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap lurus Shofi di depannya. "Iya juga." jawabnya singkat dan meneruskan kembali bacaannya dengan cuek.

More details
WpActionLinkContent Guidelines