Self-Portrait 2 : Freedom; Park Jisung

Self-Portrait 2 : Freedom; Park Jisung

  • WpView
    Reads 498
  • WpVote
    Votes 51
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 14, 2024
[HIATUS] "Meskipun badai hebat menghantam, jika kita masih bernafas, maka hidup belum berakhir." Kini, keberadaan Self-Portrait menjadi sejarah kelam Universitas Monumen Sejarah. Tidak diperuntukkan merangkai kenangan lagi, Self-Portrait diisi oleh foto-foto para pejuang keadilan yang gugur dan menghilang. Tak terasa para mahasiswa telah melewati 1 semester sejak kejadian tragis itu terjadi. Sebagai mahasiswa yang memiliki mimpi, perjuangan mereka belum berakhir. Itu menjadi satu-satunya penguat untuk mereka melanjutkan hidup, terutama para aktivis yang langsung terlibat dalam pembebasan hak asasi manusia. Sayangnya, badai kembali datang. Semua foto di Self-Portrait menghilang! Digantikan oleh tulisan darah, "ternyata Laskar terlalu mudah mati." Geram! Ketua mereka dilecehkan! Dipimpin oleh Sadewa Bagaskara, Eleutheria yang tersisa kembali mencari tahu penyebab kematian sang pahlawan, Laskara Rahardika. ---- ⚠️ Warning! ⚠️ Mengandung adegan kekerasan, bunuh diri, pelecehan, penculikan, perdagangan manusia, trauma, darah, dan umpatan yang tidak pantas ditiru. Tidak disarankan untuk usia 15 tahun ke bawah. Harap bijak dalam membaca. Cerita mungkin sedih dan menyakitkan, harap menyiapkan mental yang kuat sebelum membaca. Tolong berikan dukungan berupa vote dan komentar agar kami bisa menampilkan cerita yang lebih baik. Update tiap Senin. Terima kasih telah membaca.
All Rights Reserved
#79
ulzzang
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • Broken melodies
  • Hai, Selesai.
  • Who is She? [END]
  • Renjana [COMPLETED]
  • Ice Cream; Jaemin & Jeno
  • TWIN FLAME { ON Going! }
  • Self-Portrait; Lee Jeno [✓]

"Semelelahkan apapun hidup, tolong jangan mati di tangan sendiri." ______________________ "Aku nggak mau ngerasain mentalku kembali hancur berantakan hingga rasanya hampir mati hanya karena cinta. Itu sebabnya, aku selalu takut untuk jatuh hati lagi." Ya, Ditha Aquila selalu takut kembali dibuat terluka sampai tak sadar bahwa ia sudah jadi sumber luka bagi Juna Pradirga. Lihatlah pada kebodohan yang ia buat. Takut ditinggal pergi, tetapi menomorsatukan ego dan gengsi. Ingin diyakinkan, tetapi tak pernah memberi kepercayaan. Mengharapkan yang serius, tetapi memutuskan hidup dalam hubungan tanpa status. Lebih dari ketakutannya untuk kembali dilukai, Ditha percaya bahwa orang yang mentalnya tidak stabil memang tak pantas untuk dicintai. Sebab bagaimana mungkin ia mencintai raga yang lain saat dirinya sendiri masih seringkali ia sakiti? Biar aku bertanya, apa yang akan kau putuskan jika seseorang datang pada saat luka masa lalumu belum sepenuhnya hilang? Memilih menerimanya? Atau justru, menolak kehadirannya dengan dalih sakit hatimu yang belum pulih? Keduanya sama-sama berisiko. Namun, kita selalu bisa memilih, risiko mana yang akan kita ambil. "Dan salah satu cara paling mudah untuk mencintai diri sendiri adalah dengan berhenti sejenak mencintai orang lain." PERINGATAN ⚠ Cerita ini bertemakan mental health. Pada beberapa part mengandung konten sensitif seperti adegan kekerasan fisik, self harm, hopeless, trust issues, dan suicidal thoughts. Publish : 1/09/2021 - 25/12/2021 Revisi [ New version ] : 19/02/2023 - Rank : #2 in puisi [04/10/22] #3 in quotes [30/11/23] #1 toxic relationship [31/07/22] #1 trustissue [28/08/22] #1 loveyourself [09/08/2

More details
WpActionLinkContent Guidelines