We Were Home (END)

We Were Home (END)

  • WpView
    Reads 98,470
  • WpVote
    Votes 6,012
  • WpPart
    Parts 68
WpMetadataReadComplete Fri, Jan 2, 2026
Narina pikir kepergiannya ke Edinburgh bisa menjadi awal yang baru. Jauh dari luka yang ditinggalkan oleh sosok yang ia cintai, jauh dari pengkhianatan teman, juga dari mereka yang dirinya sebut keluarga. Ia ingin lupa, ingin sembuh. Namun, luka masa lalu tak pernah benar-benar hilang. Ia mengejarnya dalam senyap, menghantui dalam sepi. Dan pertemuannya dengan Nolan-pria asing yang perlahan membuka kembali hatinya, bukanlah sesuatu yang ia harapkan. Sebab, kisah mereka diuji bukan hanya oleh waktu dan keadaan, tapi juga oleh masa lalu yang belum selesai. . . . 1st Us Series - Narina & Nolan
All Rights Reserved
#3
familyissues
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (On Going)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EKSKALASI
  • Dangerous Deal S1-S2 (on going)
  • NINGRUM
  • Nakula
  • Define the Relationship
  • Kembang Desa

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines