Mega tidak tahu apa yang Kafka sembunyikan, apa yang Kafka pikirkan, apa yang kafka inginkan dan Mega tidak tahu apa yang Kafka rahasiakan. Entah itu Kafka dan Laina, Kafka dan sejarah, Kafka dan keluarganya, Mega tidak tahu.
Hanya saja, Mega takut. Jika Kafka membuka rahasianya, sebrengsek apapun laki-laki itu, Mega akan memaafkannya, Mega tidak akan bisa menghukumnya dan Mega akan kembali seakan tidak terjadi apa-apa. Karena Mega selalu memaafkan Kafka.
Kafka itu baik, tapi brengsek. Kafka itu selalu membuat Mega tenang, kemudian kecewa. Selalu seperti itu. Apakah mereka pada akhirnya bisa saling menerima dan memaafkan, atau justru memilih asing?
Kafka dan Mega selalu seperti hipotenusa.
"Heh! Lo mau mati? Lo ga liat ada mobil tadi?!" pertanyaan sarkas itu terlontar dari seorang gadis dengan Hoodie hitam kebesaran dan rok biru yang ia kenakan.
Anak laki laki itu terduduk di bahu jalan tidak menjawab apapun dia hanya menatap gadis itu parau, gadis itu berdecak melihat lelaki yang ia tolong diam saja bahkan tidak bergerak.
"Ck,malah diem. kalo di tanya itu jawab." kesalnya, ia berbalik mengambil payung yang sebelumnya ia lempar karna menyelamatkan laki laki itu. Berjalan lagi ke arah laki laki itu dan memberikan payungnya berwarna kuning padanya,
Laki laki itu mendongak melihat wajah gadis itu.
"Nih ambil, muka Lo udh kaya mumi tau!" katanya dengan mengambil tangan lelaki itu untuk menyuruhnya memegang payungnya.
"Gue ga butuh ini." jawab lelaki tersebut akhirnya membuka suara.
"Udah ambil!" balasnya memaksa.
"Tap-" katanya terpotong
"gue mau balik!, Lo jangan lakuin hal bodoh itu lagi! nanti yang di atas marah." katanya sembari mengarahkan telunjuknya ke atas dan berbalik menerobos hujan.
Lelaki itu tertegun mendengar ucapan gadis itu ia terus menatapnya sampai punggung nya tidak lagi terlihat dan beralih pada payung yang gadis itu berikan dan tanpa ia sadari seulas senyum tipis terukir di bibirnya. Lelaki itu pun mulai berjalan kearah sebaliknya dengan memakai payung itu.