Dahulu, Clara mengira hidupnya adalah sebuah garis lurus yang sempurna. Di balik tembok megah kediaman Adiwangsa, ia adalah etalase berjalan begitu cantik, berpendidikan, dan penurut.
Segalanya runtuh ketika "darah murni" kembali pulang. Dalam semalam, Clara tersadar bahwa statusnya hanyalah pemain cadangan yang kontraknya habis tanpa kompensasi. Cinta yang ia kira nyata, ternyata memiliki syarat. Perjodohan yang ia harapkan menjadi pelarian, nyatanya hanyalah transaksi bisnis yang bisa dibatalkan sepihak.
Dibuang oleh kota dan dikhianati oleh harapan, Clara memilih pulang ke satu-satunya tempat yang tidak pernah menuntutnya menjadi sempurna: sebuah rumah panggung yang rapuh di pesisir utara. Di sana, di antara pasir yang asin dan angin yang keras, ia tidak lagi sendirian. Ia menemukan Lena, jiwa yang sama-sama terhempas oleh badai kehidupan.