Jodoh Toko Sebelah

Jodoh Toko Sebelah

  • WpView
    Membaca 523
  • WpVote
    Vote 20
  • WpPart
    Bab 15
WpMetadataReadLengkap Rab, Sep 3, 2025
Kadang, pertemuan paling berarti datang bukan dari tatapan pertama, tapi dari pesan kecil yang tertempel di pintu. Selembar sticky note berwarna kuning dengan tulisan tangan miring: "Halo, tetangga baru. Sering-sering tertawa, ya. Suaranya bikin studio ini terasa hidup." Nara menatap kertas kecil itu cukup lama, sampai senyum tipis muncul di wajahnya. Setelah berminggu-minggu penuh kardus, cat dinding, dan suara bor yang memekakkan, akhirnya... ada sesuatu yang hangat yang ia dapatkan. Sesuatu yang tidak berisik, tapi tetap terdengar. Ia tidak tahu siapa penghuni ruang sebelah. Tapi sejauh ini, sosok itu hanya berupa bayangan di balik tirai, suara langkah pelan, dan-sekarang-coretan kecil di atas kertas tempel. Dunia baru ini sunyi. Tapi tidak sepi. Dan Nara merasa, mungkin... hanya mungkin... dirinya tak benar-benar sendiri.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#183
ella
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • MY ADORABLE NEIGHBOR
  • 41 HARI
  • Pink Hours
  • DAKSA [END]
  • Ari dan Ara (Sudah Terbit)
  • Aranathan
  • The Game
  • The Sky Before Secrets
  • Antara Dua Dunia
  • KISAH CINTA SEORANG FOTOGRAFER DAN MODEL

Apa jadinya jika ruang gelap yang dingin dihadapi oleh benda berkilau yang hangat? pasti menakjubkan. Gadis kecil yang awalnya ogah-ogahan pindah rumah sampai tantrum berkali-kali tetapi berubah pikiran dalam waktu beberapa hari. Lira kecil menemukan hal menarik yang membuat dirinya ingin menetap, alasannya Narendra Ezra Putra. Bocah laki-laki sebrang rumahnya yang tidak pandai bersosialisai namun sangat menawan, Lira sampai jatuh hati loh. Beranjak dewasa tidak banyak mengubah sikap Aren, tetapi hubungan dan ikatan mereka tidak bisa disepelekan. Seperti saat di sekolah menengah atas. "Lira Lira!" seorang pria dengan wajah memar dan baju kusut berjongkok dihadapan Lira yang sedang berpangku tangan, dia menatap heran. "Si Narendra itu monster, engga pandai berteman dan sekarang mau jadi preman." Nada adu domba yang pekat. Lira tersenyum lebar, matanya membentuk bulan sabit, "Benarkah?" kepalanya menoleh ke arah pintu kelas, dia menghampiri laki-laki yang berdiri tegak ditengah pintu, lalu "Hebat! Aren mulai berubah perlahan." Matanya berbinar sambil mengusap rambut Aren bangga. Satu kelas ternganga, adegan macam apa ini? Orang adu jotos malah diapresiasi, arena tinju, kah? Lira mungkin lahir dengan segudang dukungan dan cinta kasih di sekelilingnya, dia tidak akan redup hanya karena satu orang meninggalkannya. Namun, Narendra bisa kehilangan cahayanya jika Lira tidak lagi memedulikannya. 22 Januari 2025💐 Cover by pinterest Edit by canva

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan