On The Love-Line

On The Love-Line

  • WpView
    Reads 255,007
  • WpVote
    Votes 4,175
  • WpPart
    Parts 40
WpMetadataReadComplete Fri, Jan 11, 2013
WpInfo
Fiction
Romance
Selalu dia. Entah kenapa selalu wajah dia yang muncul di otakku ini. Walaupun track recordnya sebagai musuh udah aku hapuskan semenjak dia minta maaf. Dia-lah yang terpenting. Hal yang nggak boleh hilang di hidupku, bahkan ketika aku mencintai lagi orang yang pernah menyakitiku, tapi dia... sahabatku... keluargaku... orang yang ku cintai dalam diam... tetap nggak boleh pergi dari sisiku. Aku membutuhkan dia lebih dari sekedar aku butuh udara untuk bernapas. Oke... ini terlalu melankolis. Tapi apa yang aku rasakan ini sama sekali bukan karangan semata. Dia pergi gitu aja disaat identitas dan kewajiban menantinya untuk kembali. Dan dia juga berjanji akan kembali. Apa aku harus menunggu dia atau move on dari sekarang?
All Rights Reserved
#17
davi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • "You Don't Know Love" ( END)
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • Everything Between Us (ON GOING)
  • KENANGAN INDAH BERSAMAMU
  • Bisikan di Balik Rintik
  • My Psycopath Man (Sudah Terbit)
  • Aku Kamu Dan Dia
  • ''' REGRET AND HOPE ''' [ SELESAI, END]  Fajri Un1ty And Member Un1ty

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines