Diana Hanifa, gadis biasa yang tidak punya tempat cerita. Pena dan kertas binder sudah menjadi sahabat sejatinya, menemani malam-malam beratnya. Menulis Diary sama sekali bukan hobi Diana, melainkan sebuah rutinitas yang telah menjadi keharusan dalam hidupnya. Kalau tidak meluapkan semuanya ke buku binder berjudul 'diary Diana' mungkin benang-benang pikirannya akan berubah menjadi tumpukan benang yang kalut, kusut, dan berantakan.
Diana sama sekali tidak pernah membiarkan sepasang mata lain melirik tulisannya. Namun kenapa kali ini, ia justru menceritakan isi diary yang selama ini ia tutup rapat? Ada apa dengan Diana?