INESPERADO

INESPERADO

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 17, 2023
Brakh! Seseorang terguling bersamaan dengan kue ulang tahun yang dia pegang. Darah sudah keluar sejak kepalanya membentur cup mobil yang menabraknya. Dia tergeletak di jalan raya, lalu tersenyum tipis saat melihat seorang anak berusia dua belas tahun berdiri dengan raut terkejut. Perlahan, matanya terpejam. "MAMA!" Anak itu berlari menuju ibunya, menginjak kue ulang tahun yang dibelikan khusus untuknya. Dia menangis tersedu-sedu melihat ibunya terbujur kaku di atas aspal panas dengan tekstur kasar ini. "Mama ... bangun ...." Sirine ambulance meraung membuat seorang petugas rumah sakit tergopoh-gopoh mengangkat tubuh wanita paruh baya itu masuk ke dalam ambulance.
All Rights Reserved
#522
teenlite
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Liberosis
  • Duo Berandal yang Terculik✔
  • KALINDRA
  • Let Me Love You Longer
  • Ambisi (The Wrong Part Of Town)
  • 𝑨𝒌𝒖 𝑲𝒂𝒎𝒖 𝑫𝒂𝒏 𝑻𝒂𝒌𝒅𝒊𝒓
  • ARKAN |END| Belum Revisi
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • GRIZLEN {On Going}
  • Shafael's
Liberosis

"Kamu emang anak yang gak berguna! Saya menyesal sudah membesarkan kamu! Apa yang bisa saya banggakan? Gak ada!" "Memang gak ada! Gak ada yang bisa Papa banggain dari aku. Meskipun aku udah berjuang selama ini, itu semua gak ada artinya untuk Papa!" "Anak kurang ajar!" PLAK! Di tengah derasnya guyuran hujan, pria belasan tahun itu melangkah tertatih-tatih dengan darah yang mengucur dari pelipisnya. Wajahnya penuh lebam, sudut bibirnya robek, menyisakan rasa perih yang begitu luar biasa ketika bercampur dengan air hujan. Ia berjalan tak tentu arah di pinggir trotoar, kaos hitamnya basah mencetak dengan jelas bentuk tubuhnya yang atletis, pria itu hanya memakai celana pendek sehingga bulu-bulu di kaki jenjangnya terlihat jelas bahkan udara yang sangat dingin begitu menusuk ditambah tidak memakai alas kaki. Kepalanya menengadah ke atas langit. Membiarkan ribuan rintik hujan itu menampar wajahnya. Matanya terpejam sejenak. Dari radius dua ratus meter tempatnya berdiri, ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sudut bibirnya terangkat. Sepertinya seru, itu pikirnya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah pelan turun ke jalan aspal seperti orang yang tidak berminat untuk hidup. Dari arah kanan, mobil melaju begitu kencangnya tanpa melihat ada seorang yang berdiri di tengah jalan karena ribuan air itu menutupi kaca mobil sehingga sopir tidak mampu menatap dengan jelas. Selamat tinggal, dunia yang menyakitkan. Namun lima meter lagi saat mobil hendak menyentuh tubuhnya, tiba-tiba ada yang menarik pergelangan tangan pria itu dengan begitu cepat. Napasnya berburu kencang. "LO GAK WARAS?!" Perempuan bermata biru itu ... setidaknya itu yang Alvan lihat sebelum matanya benar-benar terutup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines