Love One Day

Love One Day

  • WpView
    Reads 553
  • WpVote
    Votes 41
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 24, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
Matanya tertuju pada sebuah danau yang terletak ditengah taman. Bunga teratai yang menghiasai danau itu, tampak indah ditimpa cahaya matahari yang mulai tenggelam. Angin sepoi-sepoi mengibas rambut panjangnya, membuatnya terlena akan suasana ini. Dibawah sebuah pohon besar yang menjulang tinggi, berdiri seorang laki-laki yang bertubuh tinggi dan bertampang dingin tersebut. hampir dua hari Tisha tidak melihatnya. Headphone hitam, masih tergantung dilehernya. Perlahan Tisha mendekatinya, "Apa yang kakak lakukan disini?" tanyanya penasaran. "Memperhatikan dan mengingat tempat ini. Untuk referensiku." jawab lelaki itu. Tisha terdiam, untuk beberapa menit. Wajahnya yang dingin membuatnya tersenyum. Untuk beberapa menit kedepan ini, dia akan merasakan berdiri bersama lelaki tersebut. Dan untuk beberapa menit itu, dia akan memiliki kenangan terindah seumur hidupnya. Yang tidak akan pernah ia lupakan walaupun waktu yang mengakhirinya
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • (I Still Remember the First Day I Met You) Lisa, Do You Love Me?
  • Jauh. Esok Nanti atau Selamanya
  • PAREIDOLIA
  • Tetangga | SOOKAI
  • Lain Dunia (Tamat)
  • Atha,That's Her Name (gxg)
  • Isi Kepala
  • Aku, Kamu dan Hujan

Seikat bunga tergeletak di atas meja. Beberapa batang bunga yang telah layu memenuhi botol kaca terisi air. Sudut pandang langsung terfokus pada sosok gadis yang tengah terlelap dalam tidurnya yang panjang. "Krriinngg..!!" "Lisa! Lisa! Bangunlah!" jerit seseorang dari luar ruangan. Namun semuanya nampak senyap. "Tok..tok..tok..!" Kedua mata terbuka, langkah kaki berjalan menuju keluar pintu. Terlihat sosok yang selama ini menghilang, kini hadir di depan matanya. Terpaku, bibir pun membisu. Tatapan itu berubah menjadi air mata yang mengalir sembari menjatuhkan diri ke dalam pelukan hangat. Sosok tersebut terdiam dan bibir tipis yang tertutup rapat. Satu tarikan napas. "Amba..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines