Selebu Semesta

Selebu Semesta

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 18, 2023
Menginjakkan langkah pada notasi saptadasa, diiringi masa remaja yang hampir kemunca mencapai dewasa. Si nona pemilik asma Bhumi Niranjana tengah dihadapkan enigma, romansa yang ia tuju tak juga bersauh pada tuannya. Laksana selebu segara yang membentang dikara, si tuan selalu saja penuh perkara syahda. Sementara si nona hanyalah batu karang yang senantiasa tenggelam dalam riak ombak, terhunjam oleh gelombang. Anca dua warsa, nestapa selalu saja tertanda, tetapi si nona masih tak juga mengudara. Justru ia terlunta-lunta pada selebu tirta. Sampai suatu ketika, si nona tak sengaja menengadah tatkala si tuan syahda tiba-tiba meniada presensinya. Seuntai warta dari bumantara jatuh tepat dalam rengkuhannya. Mencipta melankoli hingga nyeri merasuk sanubari. Sejarah di masa yang sudah kembali mengalihkan atensi, ada yang rumpang belum terselesaikan anantara ia dan si tuan sedikit kata. Lantas, apa si nona dapat menerima dengan derana atas tenangnya bena segara? Pun, apa ia dapat menjaremba bumantara untuk berdamai atas perihal yang belum selesai? Dari nawala patra sederhana yang disusun dengan sepenuh jiwa, bukan hanya kisah romansa remah kawula muda, ini tentang bagaimana daksa bisa menerima untuk perihal yang tak dipinta.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DESA PUNYA CERITA
  • Dimana Letak Kebahagiaan Itu?
  • Sepasang Luka Merajut Asa [END]
  • 🖤Rahasia diantara kita
  • Equanimity(End)
  • The Last Birthday With You
  • Nona A dan Tuan B (On going)
  • SEMESTA
  • Yang Amerta di Dalam Aksara (HIATUS)

Azis Mahendra selalu hidup mewah di kota, terpaksa ikut keluarganya mudik ke desa. Ia kesal-baginya, desa terasa asing, tak nyaman, dan jauh dari standar hidupnya. Namun semua berubah ketika ia bertemu Ratih Prameswari, gadis desa 15 tahun yang hangat dan ramah. Mereka pertama kali bertemu di pasar. Azis merasa risih dengan bau amis dan suasananya yang ramai, sementara Ratih justru tertawa melihat kepanikan Azis. Percakapan singkat mereka dalam bahasa Jawa halus jadi pembuka hubungan mereka. Hari-hari berikutnya membawa mereka ke kebersamaan yang tidak direncanakan. Mereka naik sepeda menyusuri jalanan desa, melewati sawah, tertawa saat tercebur parit karena ceroboh. Azis mulai menikmati suasana desa yang dulu ia remehkan. Dua minggu yang awalnya membosankan berubah jadi hari-hari penuh warna. Namun waktu terus berjalan. Azis harus kembali ke kota. Di ujung desa, mereka saling menatap dalam diam. Tak ada kata perpisahan, apalagi janji. Hanya perasaan yang tumbuh tanpa pernah terucap. Ini bukan kisah cinta yang selesai bahagia. Tapi tentang perbedaan, tentang waktu yang terlalu singkat, dan tentang cinta yang hadir tanpa pernah benar-benar bisa dimiliki. Apakah perasaan itu akan bertahan? Ataukah akan jadi kenangan yang perlahan memudar bersama waktu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines