SCP-FOUNDATION : Containment Site

SCP-FOUNDATION : Containment Site

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 21, 2023
WpInfo
Fiction
Mystery
Bergerak di dalam bayangan. Menyerbu tanpa suara. Semua bukti harus dihilangkan. Setiap sudut harus diperiksa. Organisasi yang membereskan semua anomali di dunia. Tidak ada yang mengingat nama mereka. Siapa yang bekerja untuk mereka? Apa yang mereka incar? Apa tujuan mereka? "Selamat datang di SCP Foundation. Sstt... Mereka bisa mendengarmu." "Tidak apa, ini semua hanya mimpimu saja. Untuk itu, pergilah tidur, dan lupakan ini semua. Yang kau lihat, hanya sebuah kecelakaan biasa." "Itu bukanlah makhluk aneh, hanya sejenis hewan yang belum teridentifikasi, serahkan sisanya kepada kami."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Syal Merah
  • Behind the Chill of the Night Wind
  • VALEN and The Guide of Shadow
  • Bimasakti - Dark Beggining Of All
  • in ROOM
  • CATATAN HARIANKU
  • VENATOR OBSCURUS
  • Orang Polos Itu Berbahaya (TAMAT)

Lihatlah manusia.... makhluk berakal, katanya, tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun. Mereka lahir dengan tangan kosong, namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam. Satu takhta tak cukup, satu negeri terlalu sempit, satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi. Mereka mencipta Tuhan dari kaca dan bayangan, lalu menjadikannya alasan untuk menyalakan api di rumah sesamanya. Lalu, ketika tubuh hangus terbakar, mereka berkata: "Ini takdir, ini suci." Padahal semua hanya siasat licik, untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam. Di medan perang, tidak ada musuh sejati, hanya cermin-cermin retak yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan. Manusia menanam senyum di bibir diplomasi, sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah". Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan, dan langit pun tak sudi menurunkan hujan, mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC, membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham. Oh, manusia bukan makhluk sosial- mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas. Mereka berdiri di atas kuburan sambil berkata: "Semua demi kemajuan." Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat? Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata? Mereka mencipta kata-kata indah- "perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan", tapi semuanya hanya selimut untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan. Sejatinya, manusia mencintai kehancuran- sebab di puing-puing itu, mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan, padahal fondasinya dari daging dan darah. Tak ada yang suci dalam perang. Tak ada yang heroik dalam membunuh. Yang ada hanyalah manusia- yang selalu lapar, selalu haus, selalu ingin menjadi Tuhan tanpa pernah bisa menjadi manusia,.

More details
WpActionLinkContent Guidelines