Karuna dan Bhara

Karuna dan Bhara

  • WpView
    Reads 4,164
  • WpVote
    Votes 157
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 4, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Hubungan dan perasaan dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Bagai kereta dan peron-peron, stasiun ke stasiun lainnya. Sama halnya dengan kereta, setiap masa ada pemberhentiannya. Entah untuk yang terakhir atau untuk melaju lagi. Meski, terkadang lajunya bukan searah. Berbalik tapi masih berpapasan dalam ruang waktu yang disediakan semesta. Dari sebuah kota. Meski, belum ada "kita" sekalipun. Laku dan senyum manismu dengan segala hormat membawaku lagi ke tempat-tempat yang mengingatkanmu. Langkahku terbawa lagi ke sana, mantra-mantra yang kau sematkan di setiap sudut kota. Jogja tempat kita bertemu, Solo kotamu yang dekat dariku, dan nanti kamu tahu kotaku yang jarang kuucapkan padamu. Temui aku sebisa usahamu, kamu bagaikan kereta yang melaju. Entah kota mana yang akan menjadi pemberhentianmu. Tak kan kupaksakan berada di aku, meski sedikitnya itu adalah keinginanku.
All Rights Reserved
#16
gustibhre
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • A Wish Upon a Star
  • Korban silaturahmi [TAMAT]
  • Silent Scars | Orine
  • DikaRanggi
  • Antara Lelah Dan Luluh
  • Di Sisi Jalan Malioboro
  • Titik Nol Kilometer Yogyakarta ✓
  • Hate Becomes Love [ Ondah ]
  • KRISANTARA

Sheila on 7, padatnya kota Jogja, dan ucapan selamat tidur yang dikirimkan dari jauh. Setiap orang memiliki lukanya masing-masing dan kelak akan bertemu dengan penawarnya. Dalam bentuk obat, dalam bentuk pelukan, dalam bentuk sepasang mata yang cantik-dan bahkan dalam bentuk paling sederhana, presensi. Bagi gue, dia orang pertama yang mengerti, yang mengatakan apa yang tak larut dalam pikiran, karena lidah maupun isi kepala gue terlalu kelu untuk tahu apa yang gue rasakan. Halte Bus, walkman tua, dan bangsal tulip Rumah Sakit Sardjito Setiap menatap bayangannya, gue melihat lautan tenang, dengan rumah-rumah ikan, pantulan langit yang berkilat dipayungi rembulan, dan rasi bintang yang menunjuk arah pulang. Sedangkan gue adalah pantai yang penuh batu terjal, menghancurkan kapal yang tertambat, menunggu diselimuti pasang, dan meninggalkan udara dengan campuran alga dan garam. Pantaskah gue mengharapkannya? Apartemen, bubur tanpa ayam, dan orang favorit nomor satu. Dan tanpa gue sadari, gue juga menemukan pulang. Tempat gue bisa menjadi diri gue sendiri, di dalam tubuh yang selama ini nggak gue suka. Pada rupa lain yang nggak pernah perlihatkan pada siapapun.

More details
WpActionLinkContent Guidelines