Karuna dan Bhara

Karuna dan Bhara

  • WpView
    Reads 4,069
  • WpVote
    Votes 156
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 4, 2024
Hubungan dan perasaan dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Bagai kereta dan peron-peron, stasiun ke stasiun lainnya. Sama halnya dengan kereta, setiap masa ada pemberhentiannya. Entah untuk yang terakhir atau untuk melaju lagi. Meski, terkadang lajunya bukan searah. Berbalik tapi masih berpapasan dalam ruang waktu yang disediakan semesta. Dari sebuah kota. Meski, belum ada "kita" sekalipun. Laku dan senyum manismu dengan segala hormat membawaku lagi ke tempat-tempat yang mengingatkanmu. Langkahku terbawa lagi ke sana, mantra-mantra yang kau sematkan di setiap sudut kota. Jogja tempat kita bertemu, Solo kotamu yang dekat dariku, dan nanti kamu tahu kotaku yang jarang kuucapkan padamu. Temui aku sebisa usahamu, kamu bagaikan kereta yang melaju. Entah kota mana yang akan menjadi pemberhentianmu. Tak kan kupaksakan berada di aku, meski sedikitnya itu adalah keinginanku.
All Rights Reserved
#8
gustibhre
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Yogyakarta dan Kenangan
  • Titik Nol Kilometer Yogyakarta ✓
  • Antara Lelah Dan Luluh
  • Silent Scars | Orine
  • Hate Becomes Love [ Ondah ]
  • Korban silaturahmi [TAMAT]
  • Love Cologne
  • Senja Kaylara [ END ]
  • Senandika : Titik Temu

Cerita ini adalah karya asli milik EHANN. Dilarang menyalin, mendistribusikan, atau mempublikasikan ulang tanpa izin. Prolog. Langit senja di Jogja selalu membawa perasaan yang sulit dijelaskan. Ada kehangatan yang menguar di antara jingga yang memudar, ada rindu yang berbisik pelan di antara angin yang berhembus. Bagi sebagian orang, Jogja hanyalah kota yang penuh hiruk-pikuk mahasiswa dan pelancong. Tapi bagi Amerta, Jogja adalah tempat di mana semua kenangan bermula-dan mungkin, berakhir. Ia berdiri di depan jendela kamarnya, menatap cahaya lampu kota yang mulai berkelip. Di dalam genggamannya, sebuah buku tua dengan lembaran-lembaran yang sudah mulai menguning. Tangannya membolak-balik halaman, membaca kembali tulisan-tulisan yang pernah ia buat di masa lalu. Setiap kata, setiap kalimat, adalah fragmen dari perasaan yang pernah ada. Tentang pertemuan di tengah hujan. Tentang perdebatan kecil yang berubah menjadi kebersamaan. Tentang tawa, tangis, dan perasaan yang tumbuh tanpa mereka sadari. Dan tentang seseorang yang, hingga kini, masih menyisakan jejak di hatinya. Amerta menghela napas pelan. Ia tahu, tak semua cerita berakhir seperti yang diharapkan. Tapi ada satu hal yang ia yakini-Jogja akan selalu menjadi saksi dari perjalanan mereka. Karena Jogja bukan sekadar kota. Jogja adalah kenangan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines