That Day: Long Before

That Day: Long Before

  • WpView
    GELESEN 185
  • WpVote
    Stimmen 1
  • WpPart
    Teile 15
WpMetadataReadErwachseneninhaltAbgeschlossene Geschichte Fr., Juli 28, 2023
WpInfo
Belletristik
Romantik
Maaf telah menyukaimu, aku melewati hari-hari dengan hati yang gemetar setiap kali melihatmu, merindukan tatapan matamu yang memancarkan kehangatan. Segala kata-kata yang terpendam dalam hatiku, aku tuangkan dalam setiap tulisan ini. Setiap kalimat menggambarkan perasaanku yang tak terungkapkan dan mencoba menggapai impian untuk mendekatimu meski hanya melalui tulisanku yang tak ada artinya lagi untukmu.
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • You're Here, But Not For Me
  • First Love
  • A Dying Butterfly [SEGERA TERBIT]
  • Kamu [SELESAI]✔
  • Yang Tertinggal
  • Mahligai Sunyi
  • flashback~
  • Pulang, Pergi dan Perasaan
  • Everything Between Us (ON GOING)
  • Cempaka Terakhir ✔

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien