Memeluk Trauma

Memeluk Trauma

  • WpView
    Leituras 11
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Capítulos 2
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização ter, jul 25, 2023
Pada salah satu titik terendahnya dalam hidup, Anjani didiagnosa bipolar. Orang tua nya pun seakan enggan menerima kenyataan bahwa putrinya itu mengalami gangguan mental. Di saat Anjani merasa sendiri dalam menghadapi roller coaster kehidupan, saat itu pula Tuhan mempertemukannya dengan Janardana, seorang psikolog klinis di sebuah rumah sakit tempat Anjani menjalani terapi obatnya. Di tengah kehadiran sosok lelaki itu, rasa rendah diri milik Anjani pun muncul. Ia tidak ingin membiarkan lelaki itu semakin dalam masuk ke kehidupannya yang berantakkan. Baginya, dirinya hanya sebuah hujan di tengah malam, sedangkan lelaki itu adalah sinar mentari.
Todos os Direitos Reservados
#628
mentalhealth
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Antara Pagar dan Perasaan
  • The Undertow (End - Terbit)
  • Keabadian Cinta Sejati
  • Drowning
  • ALEAGAS [END]
  • Sigaraning Nyawa Sang Komandan [Revisi]
  • Ketuk Pintu Dulu !
  • coward
  • Imaginary Boyfriend
  • Meneroka Jiwa 2

Arvino Reyhan Dirgantara - atau Ehan, dikenal sebagai cowok kalem, sedikit dingin, dan susah ditebak. Sementara Azalea Vianita Anjani - atau Aza, cewek ceria tapi gengsian, selalu punya jawaban sarkas untuk semua hal yang berbau romantis. Mereka duduk di kelas yang sama. Satu sekolah. Satu lingkungan. Bahkan... satu gang rumah. Hubungan mereka? Jauh dari kata akrab. Saling lempar pandangan malas tiap papasan. Saling sindir kalau disuruh kerja kelompok bareng. Dan saling tutup telinga soal gosip yang nyebar soal "cocok-cocokan" dari teman sekelas. Tapi segalanya berubah saat hujan turun deras di suatu sore, dan satu payung mempertemukan mereka di bawah langit abu-abu. Sedikit demi sedikit, percakapan yang awalnya dingin mulai menghangat. Tatapan yang awalnya biasa, jadi terasa beda. Masalahnya? Mereka terlalu gengsi untuk jujur soal perasaan masing-masing. Di antara pagar rumah yang hanya dibatasi semak kecil, dua hati diam-diam tumbuh rasa - meski belum siap untuk mengakuinya. ---

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo