Niana rasa hidupnya sudah ditahap tidak tenang. Rumah yang semestinya memberikan ketenangan, nyatanya malah memberikan rasa takut luar biasa. Boro-boro ingin curhat, melihat wajah Sang Ibu saja ia sudah tidak sanggup berkata-kata. Demi bisa keluar dari rumah yang membuat hidupnya kian tak tenang, ia memutuskan untuk menikah dengan laki-laki yang sering ia jumpai. Persetan dengan cinta, menikah yang ia pilih agar hidupnya tenang dan terlindungi.
Naas, nasibnya terlalu buruk. Beberapa bulan pernikahan tanpa cinta yang ia lakukan itu kandas. Satu hal dari kejadian itu, ia mengerti bahwa ternyata, cinta bukan sekadar alasan. Tapi lebih dari itu, cinta adalah pondasi dalam sebuah hubungan pernikahan.
__________
Hidup Arif sangat terlampau biasa-biasa saja, begitu yang dirasakan sekarang. Tapi tidak sebelum Bapak dan Ibu meninggal. Hari-harinya hanya berkutat di bengkel, kedai nasi uduk dan warung tetangganya. Terus menerus seperti itu setiap hari.
Tapi, suatu hari Deden-karyawannya di bengkel-minta diantar ke stasiun untuk pulang kampung, siapa sangka ternyata dari banyak tempat indah yang ada, stasiun yang ramai menjadi tempat ia bertemu dengan perempuan cantik yang kini mengisi hatinya.
Dugaannya selalu salah tentang perempuan itu. Tapi, tetap tidak menyurutkan perasaannya yang kian memuncak setiap waktu.
"Menurut Mas Angka, apa termasuk kerugian jika melewatkan untuk memiliki pasangan sepotensial ini?" aku menjaga nada suaraku agar tetap stabil.
Mas Angka mengangguk. "Iya, dan mungkin akan sangat sulit untuk menemukan kandidat dengan kualifikasi seperti yang gue sebutkan tadi, Na."
"Bukan berarti tidak ada yang lebih baik, tapi mungkin akan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk menemukannya."
"Jadi gimana?"
"Gue setuju, Mas. Akan butuh waktu lebih lama untuk menemukan yang lebih baik, dan bahkan mungkin akan jadi penyesalan seumur hidup jika tidak mengambilnya."
"Jadi?"
Aku mengangguk. "Ayo pacaran, Mas."