Mata Untuk Dayana

Mata Untuk Dayana

  • WpView
    Reads 35
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 30, 2023
"Apa selamanya aku gak bisa lihat dunia ku, Zha?." - Dayana "Dunia?." - Rakzha "Kalau boleh, aku ingin minta izin ke tuhan untuk membuka penglihatan ku 10 detik aja, untuk bisa melihat dunia ku, kamu." - Dayana Bagaimana rasanya melihat dunia langsung jika hanya merasakannya saja sudah penuh rasa sesak seperti ini? Namanya Dayana Anindia, seorang gadis yang sudah terlahir tanpa penglihatan mata, terlahir dari keluarga yang sudah diambang perceraian hingga pada usianya menuju 6 tahun, kedua orang tuanya berpisah rumah dan Dayana memilih ikut tinggal bersama ibunya, sedangkan ayahnya tak terlihat keberadaannya lagi setelah perpisahan itu. Saat kelulusan sekolah dasarnya, hadiah indah yang seharusnya Daya dapatkan berubah menjadi duka terburuk yang dia dapat di hari kelulusan itu. Ibunya tewas ditemukan didalam kamar Dayana dengan tali yang terikat di lehernya yang membiru. Setelah kematian ibunya, Daya diasuh oleh bibi sambungnya yang sebenarnya adalah tetangga samping rumahnya sendiri yang merasa iba dengan kondisi kehidupan Daya yang hanya hidup sebatang kara tanpa penglihatan. Daya tinggal dengan bibi sambungnya selama bertahun-tahun hingga lulus sekolah menengah atas, Daya yang sudah mulai dewasa sering merasa tidak enak dan sangat berhutang budi pada bibinya hingga Daya memutuskan untuk memulai hidup sendiri dan menyewa kosan di kota yang penuh cuaca dingin, Bandung. Sebulan berlalu, Daya mendapat kabar tentang kematian bibinya dan karna kabar itu Daya sempat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karna menurutnya semua orang yang terpenting dalam hidupnya sudah meninggalkan dia seorang diri. Tapi sepertinya takdir berkata lain, seakan melarang Daya melanjutkan pemikiran bodoh itu. Akankah pemikiran itu lewat dalam benak Daya lagi? Haruskah Daya bertahan dalam dunia yang gelap dan melingkup ini? CERITA INI HANYA KARANGAN SI PEMBUAT/PENULIS, TIDAK BERMAKSUD MENIRU SESUATU DALAM APAPUN.
All Rights Reserved
#586
ceritafiksi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Tulisan untuk Zergan ✔
  • My Psycopath Man (Sudah Terbit)
  • MEMORIA (COMPLETE)
  • US AND LAKE COMO ITALY [ON GOING]
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • FRIENDzone (Completed)
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • {𝐄𝐍𝐃}Catatan Teman yang Sudah Mati

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines