Mata Untuk Dayana

Mata Untuk Dayana

  • WpView
    Reads 37
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 30, 2023
"Apa selamanya aku gak bisa lihat dunia ku, Zha?." - Dayana "Dunia?." - Rakzha "Kalau boleh, aku ingin minta izin ke tuhan untuk membuka penglihatan ku 10 detik aja, untuk bisa melihat dunia ku, kamu." - Dayana Bagaimana rasanya melihat dunia langsung jika hanya merasakannya saja sudah penuh rasa sesak seperti ini? Namanya Dayana Anindia, seorang gadis yang sudah terlahir tanpa penglihatan mata, terlahir dari keluarga yang sudah diambang perceraian hingga pada usianya menuju 6 tahun, kedua orang tuanya berpisah rumah dan Dayana memilih ikut tinggal bersama ibunya, sedangkan ayahnya tak terlihat keberadaannya lagi setelah perpisahan itu. Saat kelulusan sekolah dasarnya, hadiah indah yang seharusnya Daya dapatkan berubah menjadi duka terburuk yang dia dapat di hari kelulusan itu. Ibunya tewas ditemukan didalam kamar Dayana dengan tali yang terikat di lehernya yang membiru. Setelah kematian ibunya, Daya diasuh oleh bibi sambungnya yang sebenarnya adalah tetangga samping rumahnya sendiri yang merasa iba dengan kondisi kehidupan Daya yang hanya hidup sebatang kara tanpa penglihatan. Daya tinggal dengan bibi sambungnya selama bertahun-tahun hingga lulus sekolah menengah atas, Daya yang sudah mulai dewasa sering merasa tidak enak dan sangat berhutang budi pada bibinya hingga Daya memutuskan untuk memulai hidup sendiri dan menyewa kosan di kota yang penuh cuaca dingin, Bandung. Sebulan berlalu, Daya mendapat kabar tentang kematian bibinya dan karna kabar itu Daya sempat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karna menurutnya semua orang yang terpenting dalam hidupnya sudah meninggalkan dia seorang diri. Tapi sepertinya takdir berkata lain, seakan melarang Daya melanjutkan pemikiran bodoh itu. Akankah pemikiran itu lewat dalam benak Daya lagi? Haruskah Daya bertahan dalam dunia yang gelap dan melingkup ini? CERITA INI HANYA KARANGAN SI PEMBUAT/PENULIS, TIDAK BERMAKSUD MENIRU SESUATU DALAM APAPUN.
All Rights Reserved
#138
cowo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • ZENARZEL [SELESAI✔]
  • Oranye Di Langit Senja
  • {𝐄𝐍𝐃}Catatan Teman yang Sudah Mati
  • Rasa dan Harapan
  • FRIENDzone (Completed)
  • AETERNA  | Selesai✓
  • Secangkir Tawa, Sebotol Air Mata

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines