Pinesthi
  • WpView
    Reads 52
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 23, 2023
Candramaya lari tergopoh-gopoh dan berteriak mencari pertolongan dari kejaran para bandit yang menggila seperti serigala lapar yang mengejar mangsanya.Ditengah hutan dalam keadaan hujan lebat gadis itu tersandung akar pepohonan,menangis,mengigil dan ketakutan berbeda dengan srigala berwujud manusia yang tertawa bringas disertai kilatan petir memecah kegelapan.. "Wis toh cah ayu jangan takut.."salah satu perampok berusaha mendekatinya "Kami tidak akan menyakitimu jika kamu nurut.."Saut dari salah satu dari 7 perampok "Kalian mau apa biarkan saya pergi.."Gadis itu memelas berharap dilepaskan "Saya memang membiarkan kamu pergi bahkan kamu telah lari sejauh ini" "Kalian mau apa? "Barang bawaanku telah kalian rampas bahkan semua pengawal dan dayangku kalian habisi.." jawab gadis itu sambil maningis dan merangkak mundur
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • CENGKRAMAN DIRGA'S
  • VALERIE : NOT AYUNA [ rombak Ulang ]
  • About This Life. (NEW)
  • Transmigrasi MyTia [END]
  • [LS1] RAINEESME (Completed)
  • 𝐓𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐏𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐒𝐚𝐦𝐚 🦋🌷[𝐄𝐍𝐃]
  • KOTA BANDUNG & GITA
  • VAGALDARA [TERBIT]

Mereka bilang, jangan pernah main ke hutan itu saat matahari mulai turun. Bukan karena hewan buas. Bukan juga karena tersesat. Tapi karena... tak semua yang berdiam di sana adalah manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan semak berduri, ada satu rumah kosong. Sudah lama tak ditinggali, katanya. Tapi kadang- lampunya menyala. Tirai bergerak. Dan suara tawa terdengar di malam hari. Warga desa memilih bungkam. Anak-anak yang bertanya dibungkam dengan dongeng-dongeng: "Rumah itu milik orang kaya yang pindah ke luar negeri." "Sudah tak ada apa-apa di sana." "Jangan percaya cerita aneh-aneh." Tapi wajah mereka selalu tegang saat menyebutnya. Dan tak ada satu pun yang berani menjejakkan kaki ke tanah itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore, Tujuh anak muda tertawa di antara rerimbun hutan, memainkan petak umpet tanpa tahu batas. Langit mulai redup. Angin berubah dingin. Dan salah satu dari mereka... menghilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines