Liburan yang seharusnya menjadi momen menyenangkan berubah menjadi mimpi buruk bagi Anggit, seorang guru muda yang tengah menikmati masa libur semester di Pulau Dewata. Ia memilih menginap di daerah Seminyak, meski hanya semalam, karena keterbatasan biaya. Baginya, satu malam cukup untuk melepas penat dan mengumpulkan kenangan manis.
Sayangnya, yang membekas justru adalah luka yang tak akan mudah hilang
Hari itu, sepulang dari Tanah Lot, Anggit kembali ke penginapan dalam keadaan lelah. Ia mandi, lalu memesan makanan lewat aplikasi. Saat sedang mengeringkan rambut, bel pintu kamarnya berbunyi. Ia membuka pintu, mengira pesanannya telah datang. Namun yang berdiri di ambang pintu bukanlah kurir, melainkan seorang pria asing-berbau alkohol, dengan mata merah dan langkah gontai. Anggit mengenalinya sebagai orang yang sempat ia lihat di Tanah Lot.
Pria itu tampak linglung dan bersikeras bahwa kamar yang ditempati Anggit adalah miliknya. Dalam kebingungan, Anggit mencoba membantunya mencari kamar yang benar. Namun setelah menunggu cukup lama di depan kamar sebelah yang tak kunjung dibuka, Anggit memutuskan kembali ke kamarnya dan menghubungi resepsionis.
Sayangnya, sebelum ia sempat mengangkat gagang telepon, tubuhnya terdorong ke kasur. Dalam posisi terdesak, membelakangi pria tersebut, Anggit berusaha berontak. Namun di hari yang sial-yang tak pernah bisa diprediksi-semua terasa berjalan terlalu cepat.
Yang seharusnya menjadi malam istirahat, berubah menjadi malam yang mencabut rasa aman, martabat, dan kendali atas dirinya. Di Pulau Dewata yang indah, Anggit justru menghadapi mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan
Todos os Direitos Reservados