Usik
  • WpView
    Membaca 44
  • WpVote
    Vote 3
  • WpPart
    Bab 9
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Sep 22, 2023
Pada akhirnya, tangisku kembali membasahi luka lama. Masih ada rasa tak terima tatkala mereka pergi bersama. Aku hanya sedang beradaptasi dengan lingkungan rumit, yang kuharap tak ada aku di dalamnya. Aku hanya ingin berdamai dan tidak ingin menyalahkan siapapun atas apa yang aku derita. Perandaianku jatuh pada kemungkinan terburuk, menerka hal mengerikan apa yang akan kulakukan saat tak kunjung menggapai kata sembuh. Pada suara tapak kaki yang seakan mendekat saja aku takut, apalagi mendengar namaku dipanggil dengan nada yang menusuk. Pasrah, di tengah dua pusara tempatku pulang. Kudapati diri ingin menyerah. Namun, rupanya semesta tak mengijinkanku tumbang begitu saja. Dia datang, membawa cahaya dan harapan yang kuingini sejak lama. Pada batas-batas kehilangan aku mengadu, tentang mengapa mulutku diam membisu.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#160
abuse
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Paradise
  • Thanks for all
  • Menyerah atau Bertahan?
  • Cerita Rein (SUDAH TERBIT)
  • Dibalik Tawa
  • Stres In Life
  • Diary Depresiku
  • Full Of Scratches
  • Maina & Maxim
Paradise

(SUDAH TERBIT) PESAN DI SHOPEE LOVELYMEDIA. "Lihat saudaramu yang lain! Mereka berprestasi! Tidak buat onar! Membanggakan orang tua!" Baginya yang terbiasa dibandingkan dengan saudara sendiri, mendengar perkataan itu tak lagi menimbulkan sakit meski sesekali menangis dalam diam. "Woi cupu! Beresin nih sekalian buang sampahnya. Awas aja lo masih bisa santai disini." "Orang kayak lo emang pantes dapet temen?" "Makanya gak usah belagu! Dasar babu!" Lambat laun perkataan mereka tak lagi berefek pada hatinya, apa ini? Apakah ini yang disebut mati rasa? Ternyata ... setelah mati rasa pun ia tetap merasakan pahit yang sulit dijelaskan. Mengapa begitu banyak orang yang membencinya? Apa salahnya? Di mana letak kekurangannya? "Urus diri lo sendiri!" "Dasar manja!" "Qi, urusan abang bukan cuma kamu. Jangan egois." Ah, begitu. Ternyata di mata ketiga saudaranya pun ia terlihat manja dan menyusahkan. Bagaimana ini? Hatinya kini sudah pecah berkeping-keping, ia tak lagi merasakan dirinya sendiri. Harapannya ... sungguh sederhana, semoga kelak Ayah dan ketiga saudaranya dapat kembali menyayanginya. Semoga masa SMA-nya bisa seindah cerita novel yang ia baca. Semoga keinginan itu dapat ia rasakan sebelum ajal menjemputnya dengan paksa. .... Warning: violence, harsh word, bullying, suicide, etc. All picture from pinterest.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan