Munajat untuk Seorang Pengkhianat

Munajat untuk Seorang Pengkhianat

  • WpView
    Reads 49
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sat, Aug 5, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
"Lo nggak bakalan sembuh selama rasa sakitnya lo sangkal terus. Acknowledge the pain, then you'll see a rainbow after a stormy rain," ucapnya seraya mendekap tubuh ringkihku yang sudah enggan memijak bumi. **** Tulisan ini kupersembahkan khusus untuk Ibu tercinta dan seorang sahabat yang namanya selalu melekat. Pernah diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen Nasional yang diselenggarakan oleh salah satu komunitas menulis, "Munajat untuk Seorang Pengkhianat" berhasil mendapatkan apresiasi sebagai Finalis 100 Karya Terbaik. Hari ini, kuputuskan untuk membagi kisahnya di sini. Jadi, selamat membaca! ^^ Salam cinta, Yanee Octa
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Juan [REVISI]
  • FRIENDZONE (COMPLETED)
  • Paradise
  • Kumpulan Cerpen Anime
  • 2 AYDEN ✓
  • Aku dan Luka [Sudah Terbit]
  • Coretan Kisah
  • Sebuah Jurnal Rasa
  • Breathe

Ini bukan kisah romansa dimana si pangeran sekolah jatuh cinta dengan primadona sekolah, bukan pula kisah si badboy yang jatuh cinta dengan seorang gadis polos, apalagi kisah si tukang bully yang jatuh cinta dengan korbannya. Sekali lagi ku ingatkan, ini bukanlah kisah romansa remaja masa kini. Kisah ini hanyalah perjalanan hidup seorang remaja dalam menjalani hidupnya. Ini kisah seorang remaja yang mencoba bertahan di tengah kerasnya dunia, dimana ketidakadilan benar-benar nyata. Cerita ini penuh dengan diskriminasi terhadap ia yang tidak 'sempurna'. Tentang mereka yang terjebak dalam nerakanya dunia. Tentang segala luka dan tangisan yang teredam. Tentang ketidakadilan yang ia rasa, sebab keadilan hanya milik mereka yang 'berpunya'. Kisahnya tidak berhenti di sana, sebab masih banyak luka yang akan ia rasa. Mereka yang ia harapkan dapat menyembuhkan luka, nyatanya hanyalah pemberi luka paling banyak. Ia hanya berharap hadirnya dapat diberi kasih, tapi bagaimana bisa jika hadirnya saja tak pernah diharapkan. Karena ia adalah hadir yang membawa luka. Jangan pikir bahwa ia tak pernah melawan, karena nyatanya, ia akan selalu melawan meski perlawanannya tak pernah membuahkan hasil. Sebab keadilan bukanlah miliknya. Memangnya apa yang bisa diharapkan di dunia ini? Jika memang masih ingin bertahan, maka jangan terlalu berharap kepada seseorang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines