SLABINO

SLABINO

  • WpView
    Reads 25
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 7, 2023
"Kak, apakah kita bisa bahagia dengan cara memiliki uang yang banyak?" Sebuah kalimat pertanyaan yang ucapkan oleh seorang gadis remaja itu membuat sang empu terdiam. Ia bahkan enggan menjawabnya karena tidak yakin dengan jawaban yang ada didalam hatinya itu. Slavana Bintang Noraya, gadis remaja yang baru saja menginjak usia 15 tahun itu tengah merasa dilema dengan kehidupannya. Walaupun ia masih remaja, ia merasa bahwa ia saat kini tengah dilanda hal yang tidak bisa ia utarakan dengan naik dengan siapapun. Bahkan, tidak ada satupun yang tau jalan pikirannya kala itu. Bahkan, dirinya itu tidak tau seperti apa dirinya untuk menceritakan tentang kepribadiannya sendiri. Namun, setelah dirinya bertemu dengan sosok laki-kaki yang umurnya terpaut jauh darinya. Ia merasa, bahwa kehidupannya menjadi lebih baik dan cerah setelah mengenal lebih dekat dengan laki-kaki itu. *** "Bisakah kamu menungguku sampai umurku cukup umur untuk pergi bersamamu?"
All Rights Reserved
#63
cintabedausia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • FARZAA
  • Sunyi yang Menyatukan
  • CANTIKA
  • Living with Brothers  [TAMAT]✓
  • Menyimpan Rasa (END)
  • TRAUMA
  • Because I'm Stupid (End)
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (Revisi)
FARZAA

"Kenapa di nama panggilan lo, huruf 'A' yang terakhirnya ada dua?", kata gadis itu sambil menengok orang yang ditanyanya barusan, yang kini tengah berada di sampingnya. Ia sempat kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis yang berada di sampingnya itu. Pasalnya hanya dia yang memerhatikan namanya dan berani bertanya kepadanya. "Ngapain lo mikirin nama gue? Gak penting banget." Jawab Farzaa akhirnya, tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Gue pokoknya harus tahu, guamamnya dalam hati. "Eh iya sih, yang penting kan, kita bisa menghasilkan uang, kita punya uang, dan kita juga bisa menikmati uang kita." gadis itu tertawa sebelum mengucapkan kalimatnya yang baru ia lontarkan. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari gadis itu barusan, tapi ia bersikap seolah biasa saja dan berkata "Gak semua orang bahagia karena uang. Dan gak seharusnya juga lo terus jadiin seolah-olah uang adalah segalanya dan uang sebagai pemeran utama dalam kehidupan lo". Gue harus ubah cara pikir lo, batinnya. Sebelum gadis itu menjawab, ia melanjutkan perkataannya. "Uang itu salah satunya. Bukan satu-satunya", ia tersenyum dan berbicara setenang mungkin. "Lalu apa?", balasnya dengan gugup setelah mendengar penuturan laki-laki di sampingnya, yang ia sendiri tidak menyangka tanggapannya akan seperti itu. "..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines