Phantoms [Drop]

Phantoms [Drop]

  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 9, 2023
Kuda itu berlari kencang, berlari di jalanan gelap Leyfentina. Rumah bangsawan dan rumah pelayan yang lebih kecil perlahan mulai menyala, teriakan dan tangisan khawatir terdengar dari dalam. Erlyn menggigit bibirnya, berusaha mengalihkan perhatiannya dari kebisingan. Dan saat itulah dia mendengarnya. Suara-suara dan tangisan tampak teredam oleh ledakan. Suara ledakan besar bergema di kota saat teriakan semua orang menjadi keheningan yang mematikan. Mereka ada di sini, dan tidak berhubungan baik. Apa yang dulunya merupakan malam yang indah kini dihancurkan oleh suara kematian. Dia ingat pepatah umum yang dia ulangi kepada Jenderal. "Kami orang Scuderia. Kami akan selalu menang saat asapnya hilang." Dia berharap itu benar.
All Rights Reserved
#179
bangsawan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Shadow Order
  • Oblivora: The Memory Of War
  • ANKERTANIZATION (Ketika Cahaya Bertemu Kegelapan)
  • Black Thunder
  • Axel Wargenstranger : Fragment Of The Black Pact
  • Chains of Devotion (WonJay)
  • THE DEMONIC YOUNGEST DAUGHTER
  • Hunter for The phantom

Manusia selalu saja serakah dan tidak dapat berdamai sesamanya. Perang telah menghancurkan peradaban yang lemah dan memperkokoh keberadaan peradaban yang kuat. Manusia tak ubahnya binatang yang lain. Terus berulang hingga Perang Tiga Puluh Tahun terjadi. Tidak hanya melibatkan dua atau tiga negara, tapi melibatkan seluruh dunia, membuat dunia jatuh ke dalam krisis. Kemudian, hal itu terjadi. Sebuah kekuatan meninggalkan lubang raksasa yang bahkan terlihat jelas dari angkasa. Dunia ini mengenal kekuatan itu sebagai Phantom. Perang terhenti karena mereka sekarang diteror ketakutan akan kekuatan besar itu. Mata mereka saling menaruh curiga. Satu-satunya yang menjadi landasan perdamaian adalah ketakutan. Biarlah, manusia memang butuh ketakutan agar mengetahui betapa lemahnya mereka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines