Dunia kecil itu pernah terasa begitu aman dan sempurna.
Meski dibangun dengan beragam kekacauan.
Lima pasang tangan yang bergetar mencari jati diri, berbagi ketakutan dan tawa sambil menanti mentari terbenam, atau menari dan berlarian di bawah hujan deras, juga hal-hal sederhana yang tidak menuntut mereka untuk menjadi sempurna.
Namun, dunia yang lebih besar datang dengan cara yang kasar--menumbuk jati diri yang telah terbentuk hingga lebur, meninggalkan air mata dan sesak yang menekan dada.
Kini, tatanan dunia itu telah hancur.
Yang tersisa hanya Si Pecandu yang terjebak dalam obsesi dan Si Pengecut yang terus melarikan diri. Pertemuan mereka yang entah disengaja atau tidak--bukan membawa kesembuhan, melainkan kekacauan yang jauh lebih pekat. Pilar-pilar yang mereka bangun susah payah untuk bertahan, kini retak dan runtuh.
Di sela-sela memori masa remaja yang manis, mereka harus menghadapi sisi gelap orang dewasa: kehancuran mental, ketergantungan yang menyakitkan, dan keintiman yang penuh luka. Mereka saling menyakiti dan menolak, meski memori masa lalu menjerit; mengingatkan bahwa mereka pernah punya tempat pulang yang nyaman dan tak pernah menuntut.
Di akhir perjalanan, ada banyak hal yang harus diperjuangkan, direlakan, atau dihancurkan demi sebuah jalan yang mereka anggap layak.
[WARNING!!: Cerita ini mengandung konten dewasa, eksplisit, serta isu kesehatan mental dan ketergantungan. Harap bijak dalam memilih bacaan!!]
Todos los derechos reservados