Bagaimana rasanya ketika hari mu begitu tenang?
Angin meraba-raba membuat rambut mu melambai dan menari, terkadang menerpa wajah dan menutupi matamu yang selalu sendu dan abu-abu.
Semua makhluk di semesta ini memiliki kekuatanya masing-masing, untuk tertawa, untuk bahagia, bahkan untuk menangis, lalu bagaimana rasanya ketika kekuatan itu menghilang? Hati mu tenang?
Apa kamu pernah keheranan, ketika seharusnya kamu menjadi orang paling sedih pada suatu situasi, justru dada mu terasa ringan, tidak ada rasa kebas membiru yang menjerat, ketika seharusnya kamu menjadi orang paling sedih, yang seharusnya bola mata mu terasa panas karena terdesak lelehan air mata, kamu justru menjadi orang yang paling tidak mengerti dirimu sendiri, kamu justru bersedih karena kamu kehilangan rasa sedih, kamu bersedih karena tidak merasa kehilangan atas apa yang selalu dekat.
Apa karena sudah terbiasa terjerat? Sudah terbiasa lebam? Sudah terbiasa merasa perih? padahal saat pertama kali rasanya semua ingin dibanting, begitu sesak, pedih, sampai harus menahan rasa ingin bicara karena takut berteriak.
Sekarang, mari kita berkenalan, dengan bunga-bunga dan kupu-kupu, dengan air dan riaknya, dengan laut dan pasang-surutnya, dengan bulan dan pucatnya, dengan kopi dan pahitnya, dengan hujan dan badainya, dengan ingin dan izinnya.
Sebelum itu, kamu berkesempatan untuk lari, sejauh mungkin, dan jangan kembali
Kamu berkesempatan untuk hilang, dan tidak ditemukan
Kamu berkesempatan untuk berbicara sebelum akhirnya bisu
Karena setelah ini tidak ada hening, tidak ada diam, semua RIUH.
"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya.
"Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah.
"Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya.
"Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita.
"kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku.
"kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya.
"Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar.
Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain.
"Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu.
Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi.
Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun.
"Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa.
• Hasil karya sendiri
• bahasa baku dan non baku
• maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita
*** Happy_Reading ***