Between Us.

Between Us.

  • WpView
    Reads 68
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 1, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
"Jadi itu, alesan nya? Kenapa dia gamau jujur?." °°° Sae mempercepat langkah nya, tatapan nya di penuhi amarah yang meledak ledak dan jantung nya berdetak semakin kencang. Sae yang melihat target sudah ada di depan, dia mengepalkan tinju nya erat dan dengan segala kemarahan nya dia memukul saudara kembar nya sendiri. "LO BANGSAT!." °°° Kedua tangan itu tampak bersatu, Sae menarik nafas perlahan dan melihat ke arah depan pantai kemudian beralih kepada seorang gadis berusia 17 tahun. "Apa yang bikin lo bahagia?." "Lo." °°° Dia hanya Sampah. "Sae?." Tangan nya bergetar, kedua matanya memanas karena menahan air mata yang akan turun. "Ini mimpi? Sae!." °°° No Visual.
All Rights Reserved
#63
pilihkasih
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Spring's Love Note
  • ELANG [End]
  • Ini Aku, Erlang
  • Daddy Angry |TAMAT|
  • Because ILY [Completed]
  • dimana janji tersebut
  • I'm broken [BHS#1]✓
  • Dear You
  • LIFE LINE | Of Blood, Love, and Loyalty
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]

'Bukankah masa sekolah adalah masa-masa terindah bagi seorang remaja?' Hyerim terdiam. Untuk kesekian kalinya ia mendesah keras. Kepalanya ia tundukkan, menatap kosong pada barisan semut yang berjalan berbaris rapi di sekitar kakinya. Memorinya kembali pada ingatan tahun lalu, ingatan yang seharusnya menjadi kenangan manis dengan debaran halus. Ia tersenyum tipis saat siluet pemuda manis dengan tinggi yang cukup membuatnya sakit saat menatapnya, tersenyum kearahnya, menatap lembut ke arahnya, dan mengucap kata yang membuatnya merinding lucu. Tapi, sesaat kemudian sebuah bayangan gelap menutup semua sinar bahagianya. semuanya mendadak gelap, hatinya berat, dan setetes air mata mulai turun dari sudut mata kanannya. 'Oppa..' Ia menangis, mengingat bagaimana kakaknya melakukan hal yang semestnya tidak perlu dilakukan untuk dirinya dan pemuda itu. Semua alasan yang tidak masuk akal yang menjadi penyebab kuat kakaknya melakukan hal buruk itu. Sampai akhitnya ia harus bertahan disini, ditempat jauh yang ia sendiri bahkan tidak tahu kapan ia bisa kembali.

More details
WpActionLinkContent Guidelines