Sandyakala Di Bukit Nestapa

Sandyakala Di Bukit Nestapa

  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 14, 2023
Sinar kemerahan yang terpancar indah menghias temaramnya langit senja. Kunikmati segala keindahan yang Tuhan sajikan diatas puncak bukit ini, bersama dia. Gadis cantik misterius yang selalu kutemui kala senja menyapa. Menikmati rona indah sang sandyakala yang memerah menghias tirai langit. Hanyut dalam perasaan suka yang semakin lama semakin tak mampu aku kendalikan. Hingga pada akhirnya, sukaku beralih dengan duka. Kala semua hal tentang dia -sang gadis senja- mulai mencuat dan tak bisa kuterima dengan akal sehat. Tak pernah kusangka, rasa cintaku padanya hanya membawa malapetaka yang seolah tiada akhir. Untukku, keluargaku, juga semua orang disekitarku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Renjana [COMPLETED]
  • I Promise - Haechan [TERBIT]
  • Si Manis
  • [βœ“] 1. Lost Sun : Lee Haechan
  • MATAHARI 🌻(Lanjut di Book MATAHAHARI🌻- II)
  • Eternal Flutter (SIDE STORY) βœ“
  • LANGGIT
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)

Pada malam paling temaram yang pernah seorang anak jumpai adalah kehilangan sepenggal bait kehangatan yang sepatutnya terus membersamai. Seorang anak yang sudah cukup dewasa sebagai pengganti bapak, seorang anak lain yang baru saja memasuki runyamnya semester tanggung di bangku perguruan tinggi, seorang lainnya lagi baru saja bersuka cita telah memasuki mimpi para anak muda seusia adiknya untuk melepas seragam sekolah, seorangnya lagi baru saja merasa bahwa masa SMA adalah kebebasannya, seorang lainnya lagi masih berkutat dengan permainan remaja tanggung di bangku menengah pertama, satu yang lain masih bersenang-senang pada masa anak-anak yang hendak remaja, dan satu lainnya yang terakhir masih bahagia dimanjakan dengan rambut yang terbelah dua. Namun pada hari itu, nyatanya semesta memberinya segenggam ujian yang harus ditanggung bersama karena kepergian ibunda. Syair-syair elegi selanjutnya mengiringi langkah mereka, mengantarkan satu tubuh yang sudah kaku karena kehilangan ruhnya. Mengantarkan keberangkatan sang ibunda pada tempat paling jauh yang tak bisa mereka singgahi untuk sekadar melepas rindu yang menumpuk dibalik pakaian basah yang baru dicuci, dibalik tumpukan piring kotor yang hendak dibersihkan. Dan lainnya yang menumpuk dan terus menumpuk, membiarkan hati mereka berat diduduki rindu yang tak pernah habis. Dan kemudian luka-luka tak pernah bisa disembuhkan waktu, ketujuh warna dalam keluarga Nawasena berakhir temaram dan kehilangan sukmanya. Β©Jeta An Alternate Universe Renjana, 2021

More details
WpActionLinkContent Guidelines