"Bu, aku gagal" Telepon seluler baru saja terputus, aku mematung di pelataran terminal pemberangkatan dengan ransel usang yang menggantung, aku kembali lagi ke tempat ini, dengan predikat tak berhasil.
Meskipun beberapa jam yang lalu sudah berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja, sekalipun perjalananku kali ini tidak berhasil namun tetap saja, ketika sambungan telepon itu mengantarkan suara serak milik perempuan beruban itu aku tetap tidak bisa menahan.
Pada hilir mudik orang-orang dengan kesibukan mereka, aku menangis. Bertumpu pada pilar kokoh pasar lama.
"Mas, berhasil atau gagal. Kamu tetap anak ibu"
Suara itu, aku menoleh tepat pada perempuan tua dengan bulir keringat besar, ibu di sana.
Bersama hatinya yang mulia.
Juga senyumnya yang tak pernah lupa.
Cerita ini di persembahkan untuk para ibu hebat di luar sana.
All Rights Reserved