IBU Pinjam Semesta Untuk Avraza.

IBU Pinjam Semesta Untuk Avraza.

  • WpView
    Reads 97
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 25, 2024
"Bu, aku gagal" Telepon seluler baru saja terputus, aku mematung di pelataran terminal pemberangkatan dengan ransel usang yang menggantung, aku kembali lagi ke tempat ini, dengan predikat tak berhasil. Meskipun beberapa jam yang lalu sudah berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja, sekalipun perjalananku kali ini tidak berhasil namun tetap saja, ketika sambungan telepon itu mengantarkan suara serak milik perempuan beruban itu aku tetap tidak bisa menahan. Pada hilir mudik orang-orang dengan kesibukan mereka, aku menangis. Bertumpu pada pilar kokoh pasar lama. "Mas, berhasil atau gagal. Kamu tetap anak ibu" Suara itu, aku menoleh tepat pada perempuan tua dengan bulir keringat besar, ibu di sana. Bersama hatinya yang mulia. Juga senyumnya yang tak pernah lupa. Cerita ini di persembahkan untuk para ibu hebat di luar sana.
All Rights Reserved
#774
bapak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • l'm Fine :) [ON GOING]
  • Ketulusan Nafisya (On Going)✔️
  • dimana janji tersebut
  • 𝐃𝐔𝐃𝐀 𝐀𝐍𝐀𝐊 𝐃𝐔𝐀(𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢)-[𝐄𝐍𝐃]
  • Style... ✔
  • SARAH STORY
  • Hanya figuran
  • Puisi Kegagalan
  • A R S E A N A

Memandang dunia itu sebenarnya menyenangkan bila tak tau apa yang ada di dalamnya.. Berharap kebahagiaan akan terpancar disana Berharap semua akan baik baik saja Berharap dunia akan berperilaku baik Itu pandangan ku, seorang AMANDA KEYLI AUREL, Gadis yang tak segan kembali kemasa lalu hanya karena kerinduan yang terus menghantui ku. aku ingin membuka lembaran baru dalam hidupku, namun seakan masa lalu itu enggan pergi dari hidup ini. Aku berpikir akan baik saja dengan menjalani ini semua, berharap masa lalu itu akan musnah dengan sendirinya ketika aku kembali ke tanah kelahiran ku, berharap mama akan memandang ku lagi, berharap kakak ku akan memeluk ku lagi, dan berharap dia akan sama seperti dulu... Namun itu hanya sebuah harapan, kau tau apa yang kita harapkan dari sebuah Kata 'HARAPAN'. Karena diri sendiri lah yang mengharapkannya, diri sendiri lah yanng membentuknya. Harapan ku seakan terbelenggu di dalam kabut abu abu, kadang hilang di bawa angin, dan terkadang jatuh kejurang yang dalam. Dan apa yang harus aku harapkan dari makhluk tuhan yang berwujud Manusia.....

More details
WpActionLinkContent Guidelines