Delima dan Takdirnya

Delima dan Takdirnya

  • WpView
    LECTURAS 683,533
  • WpVote
    Votos 41,666
  • WpPart
    Partes 27
WpMetadataReadConcluida vie, ene 5, 2024
WpInfo
Ficción
Romance
Repost ulang. "Nomor saya udah saya simpan di hp kamu, kalo ada apa-apa kamu hubungi nomor saya aja." Setelah mengatakan itu mas A'ang beranjak berdiri hendak keluar dari rumah, namun langkahnya terhenti dan berbalik menatapku. "Oh iya, satu lagi Delima. Kalo kamu mau buka pintu pastiin dulu kamu pake bra. " Ucapnya sebelum akhirnya keluar dari rumahku dan menutup pintu. Aku yang tadinya masih lemas seketika terlonjak kaget dengan perkataan mas A'ang dan segera menunduk melihat bagian dadaku yang menyeplak jelas dua gundukkan payudaraku. Pantas saja kulihat dari tadi mas A'ang selalu mengalihkan pandangannya dari ku!
Todos los derechos reservados
#347
preman
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • The Ducibella 【End】
  • SewaPacar.com
  • Meniduri Wanita Lain [END]
  • END || Reckless [18+]
  • Prasetya (Completed)

"Bisa gak berhenti ngerokok?" Suara Lea terdengar ringan, tapi sorot matanya menyimpan keteguhan. Alfan berdiri menyandar di motornya, satu tangan memegang rokok, asap melayang malas di udara. Tatapannya turun pelan ke arah Lea, seperti sedang menilai apakah pertanyaannya layak dijawab. "Gak." Jawabnya singkat, datar-tapi justru itu yang bikin suara itu terdengar dalam dan berbahaya. Lea menghela napas. "Bisa, kalau lo mau." Alfan tertawa kecil, bukan karena lucu. Lebih ke tawa dingin, berbahaya, kayak singa yang diganggu pas lagi malas. "Masalahnya," katanya sambil membuang rokok ke tanah, menginjaknya perlahan dengan sepatu, "gue gak pernah punya kemauan buat berhenti dari sesuatu yang nikmat." Lea menatapnya, masih mencoba logika. "Terus lo maunya apa?" Alfan maju. Satu langkah. Dua langkah. Sampai Lea harus mendongak. Sampai napasnya kehabisan ruang. Tangan cowok itu naik, menangkup tengkuk Lea, kuat, tapi gak kasar-lebih ke 'lo gak akan bisa kabur sekarang'. "Maunya?" bisik Alfan, dekat banget. Nafasnya panas, suaranya rendah dan dalam. "Your Lips." Lea menelan ludah, tubuhnya menegang. Tapi dia gak bergerak, gak bisa. "Gue berhenti ngerokok... kalau setiap malam bisa candu sama lo." Alfan mendekatkan bibirnya ke telinga Lea, napasnya mengiris kulit. "Kalau tiap kali gue pengen rokok, gantinya lo yang gue isep." Bisikannya brutal. Jelas. Tanpa sensor. Lalu dia mundur pelan, tapi sorot matanya masih mengunci Lea. "Deal?" ...... Content warning(s) : alcohol; smoking; harsh words; dirty jokes; dirty pick up lines; intimate skin contact; kissing, etc Cover by Pinterest

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido