Yang Kusebut Rumah

Yang Kusebut Rumah

  • WpView
    Reads 44
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 28, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Cakrawala, sebuah nama yang berarti kehangatan, cinta yang luas, serta sosok yang kuat. Namun, semua itu tak sesuai dengan jalan hidupnya selepas remaja. Ia kehilangan apa itu arti sebuah keluarga, cinta, dan kepercayaan terhadap manusia dan Tuhannya sendiri. Darah mudanya menggelegak, dan egonya memberontak. Nyalinya yang menciut telah membesar dan membawanya hidup di jalanan sebagai gembong preman. Dan di suatu ketika saat berada pada titik terendah, akhirnya jiwanya mengaku lelah. .... "Kembalilah ke rumah, Cakra! Seburuk apa pun dirimu, kau tetap anak lelaki Emak." "Rumah mana, rumah seperti apa yang Emak maksud?" "Keluarga. Ia adalah tempat sebaik-baiknya engkau pulang, Nak." "Semuanya t'lah hilang sejak lama, Mak! Sungguh, aku kesusahan menemukan jalan untuk kembali, Mak." "Jangan memintanya untuk tetap tinggal dan kembali ke rumah ini, Mak! Kita udah terlanjur malu dibuatnya, sama seperti Bapak. Mereka sama-sama menyakiti kita. Nila udah terlanjur membenci mereka. Sekarang, enggak ada lagi istilah abang ataupun adik antara Nila dan dia, Mak!" .... Bagaimana rasanya jika sebuah rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman malah menjadi awal mula kehancuran? Yang seharusnya menjadi tempat untuk pulang, malah menjadi alasan mengapa harus menjauh. . . . . Jangan lupa tinggalkan komentar dan votenya ya. Tengkiuu 🙏
All Rights Reserved
#68
cakrawala
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Antara Dendam dan Cinta
  • CHRISTIAN EL DANDELION [ The End ]
  • RAGARA [ on going ]
  • Rumah
  • I'm a Failed Wife and Mother
  • Meraih Restu Kakak [TAMAT] #WRITONwithCWBP
  • Im's Figurans Eveline
  • RUMAH KITA
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines