Terpaksa Jadi Guru [On Going]

Terpaksa Jadi Guru [On Going]

  • WpView
    LECTURAS 45
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 8
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, sep 6, 2023
~Selamat datang. Selamat menikmati cerita ini~ Andaikan bantal ini takdir, aku ingin memukulnya, merobeknya. Ah, kesal sekali. Sudah satu tahun ini aku menganggur. Apa-apaan lulusan universitas unggulan kalau begini jadinya. Tapi tiga hari yang lalu Om aku berkunjung ke kosanku, memberi tahu ada lowongan pekerjaan menjadi guru. Kalau bisa memilih, aku lebih baik mencari pekerjaan lain. Tapi boro-boro dapat panggilan kerja, cari kerjaan aja susahnya minta ampun. Apa boleh buat daripada aku harus menahan lapar melulu dan diusir dari kos gara-gara tiga bulan menunggak pembayaran. Sepertinya tak ada pilihan lain. Masalah selanjutnya: Memang orang sesuram aku ini bisa menjadi pendidik?
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • KENNARD - Living with the Bad Boy
  • Living with Brothers  [TAMAT]✓
  • Back Then, I Was Just A Child!
  • Dibawah Senja Yang Sama [Repost]
  • ★BABY ZION★
  • Teacher Pet's : Brothership
  • Ujung Serbuk Emas Segera Hancur [END]
  • Adiksi
  • What Is Love? [COMPLETED]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido