MIPA-II (2019)

MIPA-II (2019)

  • WpView
    Reads 50
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 26, 2023
WpInfo
Fanfic
1Direction
Harpy Senior High School adalah sekolah elit yang tidak di ragukan lagi kredibilitasnya. Mereka selalu dapat memasukkan anak didik mereka di Universitas unggulan yang ada. Semua memiliki mimpi yang sama, masuk ke sekolah ini untuk memperbaiki hidup mereka. Sayang sekali semuanya tak berjalan mulus saat Amelia Danfrod masuk ke sekolah ini. Amelia memiliki keistimewaan untuk dapat membuat sesuatu terjadi hanya dengan membayangkannya saja. Tidak ada yang aneh awalnya, hanya saja perlahan Amelia tau rahasia dari sekolahan ini sebelumnya. Dia berpikir jika dia adalah orang yang istimewa, tapi di kelas MIPA-II semuanya memiliki keistimewaan yang setara. . . "Anjing lo ya! Lo tuh seharusnya gak masuk kelas ini tau gak! Andaikan Lo gak masuk kelas ini, andaikan lo gak pernah masuk sekolah ini, ini semua gak bakal terjadi pada kita."
All Rights Reserved
#317
kekuatan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • Astrea High School [END]
  • JATUH GAK CUMAN SEKALI
  • Sahabat Until Jannah (SUDAH TERBIT)
  • Avicenna: Home Before the Storm
  • DEADLY CURSE [Completed]
  • High Level (Completed)
  • Ignasia: Di Balik Gerbang Asrama (Harqeel)

Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?

More details
WpActionLinkContent Guidelines