Rahasia Dalam Dekap Kegelapan

Rahasia Dalam Dekap Kegelapan

  • WpView
    Reads 80,262
  • WpVote
    Votes 84
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 5, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Dalam gelapnya malam,di sebuah ruangan sunyi,dua insan terdiam. Salah satu di antaranya seolah takut kehilangan.Terlihat seorang gadis memeluk punggung lebar seorang pria begitu erat, tangannya bergetar seiring aliran air mata yang tak kunjung berhenti. "Bukankah,ini yang kau inginkan?" tanyanya lirih. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan kuat.Tangannya semakin erat merangkul punggung pria itu.Tangisnya pecah,hingga untuk mengucapkan satu patah saja,ia tak sanggup. "Maafkan saya,biarkan saya menebus kesalahan dari luka yang saya berikan" Pelan-pelan gadis itu melepaskan pelukannya.Sang pria terdiam, heran sekaligus geram, Sang gadis mengusap air mata yang jatuh, lalu menghela napas panjang. Ia pun memberanikan diri untuk berbicara. Tanpa keraguan, ia mengucapkan kata-kata yang membuat pria itu terhenti sejenak dalam diam. Sebelum akhirnya, sebuah senyum tipis dan seringaian menghiasi wajahnya. Ia segera berbalik,lalu memeluk gadis itu dengan sangat erat, Hatinya berdebar liar, tak terkendali. "Id win sweety,welcome to real life." [UTAMAKAN BUDAYA FOLLOW TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA⚠️] (HARAP BIJAK DALAM MEMBACA! TERDAPAT UMPATAN KASAR DAN KEKERASAN)
All Rights Reserved
#130
redflag
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GRAVARENZO
  • Transmigrasi Ziora
  • Tsundere Maniak Susu
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • The Time
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Blueprint Pelarian Villain [END]

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines