Fisik Dan Pandangan

Fisik Dan Pandangan

  • WpView
    Membaca 49
  • WpVote
    Vote 6
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadLengkap Sen, Sep 25, 2023
Kecenderungan seseorang terhadap fisik yang menjadi awal ketertarikan orang lain, kerap kali orang membuat diskriminasi terhadap manusia, baik diskriminasi dalam aspek kehidupan ataupun hal lainya. Terutama diskriminasi dalam cara memperlakukan seseorang yang kurang baik. Diera milenial ini banyak sekali hal yang dapat merusak mental seseorang seperti bullying, menge-judge penampilan atau fisik seseorang, menjelek jelekan dan lain -lain. Dampak dari hal tersebut bisa menimbulkan stigma- stigma yang bisa menjadi pemicu penyakit mental seseorang sehingga dapat membuat seseorang down, dan terpuruk. Sering kita ketahui hal seperti ini bisa menjadi candaan, namun dibalik itu kita tidak tahu hati mana yang dapat menerima candaan dan hati mana yang tidak dapat menerima. Kita sering mendengar istilah" lo cantik, lo dihargai". Maka dari itu buku ini akan mengungkapkan tentang bagaimana seseorang berpendapat terhadap stigma fisik ini dan jawaban dari semua pertanyaan mengenai fisik seseorang. Semoga dengan dibuatnya buku ini bisa menjadi motivasi baru dan menginspirasi semua orang bahwa" Dunia bukan milik mereka yang cantik tapi dunia milik kita yang cerdik". Dan fisik bukanlah sesuatu hal yang harus selalu dinomor satukan dan bukan pula hambatan untuk kita mengejar harapan.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#16
judge
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Terperangkap dalam Diri
  • Transmigrasi : Gua bukan Gay (TAMAT)
  • ABG Anak Biang Gaul
  • Self Injury's(complete)✔
  • KONTES KECANTIKAN
  • BALADA KEHIDUPAN
  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL

Sinopsis: Leonhardt selalu terlihat tenang. Bagi orang lain, hidupnya tampak biasa saja-tidak ada yang tahu bahwa di dalam dirinya, ada sesuatu yang terus menghantuinya. Air, suara bentakan, dan kesepian. Semuanya berawal saat ia tenggelam di danau waktu kecil. Saat itu, ia hampir mati. Yang paling menyakitkan bukan hanya dinginnya air yang menelannya, tapi bagaimana teman-temannya hanya tertawa, mengira ia sedang bercanda. Sejak hari itu, setiap kali melihat air, ia kembali ke saat itu-merasakan dadanya sesak, tangan yang berusaha menggapai sesuatu yang tak ada, dan kesadaran bahwa tidak ada yang benar-benar peduli. Namun, trauma itu bukan satu-satunya yang menghantuinya. Sejak kecil, Leonhardt tumbuh dalam lingkungan yang penuh bentakan. Setiap suara keras membuatnya membeku, membuatnya merasa kecil dan tidak berdaya. Setiap teriakan mengingatkannya pada ketakutan yang tidak bisa dijelaskan. Ia selalu gemetar saat seseorang mulai berteriak, bahkan jika itu bukan untuknya. Di sekolah, ia juga tidak pernah benar-benar merasa aman. Bullying yang ia alami tidak selalu berupa pukulan-sering kali, itu hanya ejekan, bisikan kecil di belakangnya, tatapan yang meremehkan. Tapi semua itu cukup untuk membuatnya merasa tidak berharga, cukup untuk membuatnya percaya bahwa ia memang seharusnya sendiri. Semakin ia tumbuh, semakin semua itu menggerogoti pikirannya. Anxiety yang tidak terkendali, OCD yang membuatnya terjebak dalam pola pikirnya sendiri. Ia tidak bisa berada di tempat ramai, tidak bisa mendengar suara keras tanpa merasa ingin melarikan diri. Setiap malam, ia terjebak dalam pikirannya sendiri, mengulang-ulang semua yang terjadi, bertanya-tanya apa yang salah dengannya. Tapi trauma tidak bisa dihindari selamanya. Ketika sebuah kejadian membawanya kembali ke danau itu, Leonhardt dipaksa menghadapi semuanya. Air yang selama ini ia hindari. Ketakutan yang selama ini ia kubur. Dan kenyataan bahwa mungkin, selama ini ia memang sudah tenggelam, bahkan di daratan.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan