Terikat Jodoh

Terikat Jodoh

  • WpView
    Reads 257
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 12 hours ago
"Kencan cuma 12 menit?" heran Meylin saat melihat sang adik sudah duduk di sofa sebelahnya. "Udah putus." Ia membalasnya cuek, menyomot saja cemilan Meylin hingga raib. "Yaudah sih mending jomblo kaya kakak. Coba deh belajar buat nutup aurat, jadi mereka nggak mandang kamu remeh mentang-mentang kamu anak seorang ustad ternama. Lagian kamu nggak rugi kok, malah untung." "Kakak juga nggak pake," lirik Luna sinis. Meylin geram, dia sampai menonyor jidat adiknya. "Tapi kan kalau keluar selalu pake. Emang kamu, kebanyakan bajunya kurang bahan." "Nanti nunggu hidayah dateng." "Hidayah mah di jemput bukan di tunggu. Udah sana ke kamar, meratapi nasib lo yang jomblo lagi. Asal jangan ngeganggu waktu nonton gue kalau lo nangis kejer." Sudah menonyor kepala, dia mengusir lagi, kenapa sih semua orang nyebelin banget hari ini. Sedangkan di lain tempat... "Ya Allah, jomblokanlah jodohku sama seperti Engkau menjomblokan hambamu ini." Start : 11/07/26
All Rights Reserved
#1
luna
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • MINE, NO ONE ELSE (ON GOING)
  • Silent Traces by the Sea
  • The Dateline [END]
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Be My Wife
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • DOMINEX | The Crime Lock

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines