HIRAETH

HIRAETH

  • WpView
    LECTURAS 82
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Partes 4
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, sep 25, 2023
Badai pasti berlalu, begitu pula yang terjadi kala itu pada gadis remaja ini, Azalie Grizella Darwin. Bulir-bulir kekecewaan pada keluarga nya kian mereda seiring berjalan waktu. Ataukah mungkin berkat pemuda itu? Diketahui dunia dari bait tulisannya, gadis ini mencoba mencurahkan setiap kegundahan dalam hatinya kepada kertas putih. Tak luput dari pengawasan sepasang mata pemuda itu. " Tentang rasa yang harus tuntas berlabuh. Juga getaran aneh yang terus saja memberontak. Di ujung lembayung senja, engkau menjelma angin mendekap kerinduan. Dikepala hiruk pikuk suaramu menggema, mengambil alih atensi ku dari dunia. Apakah ini pesonamu, Tuan? "
Todos los derechos reservados
#55
hiraeth
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • ALYA
  • AZALEA
  • AdiSaka ( On Going )
  • Cahaya [COMPLETED]
  • Beware of The Villain
  • 63 Hari & Isinya
  • Psikopat Digital? [End]
  • Transmigrasi: Tokoh yang Tak Pernah Ada [END]
ALYA

Alya melangkah menuju sekolah dengan langkah pelan. Jalanan pagi itu sepi, hanya suara burung berkicau yang menemani. Biasanya, ia akan berangkat lebih awal untuk membaca buku di perpustakaan, tapi hari ini hatinya terasa berat. Sesampainya di sekolah, suasana berbeda jauh dari rumahnya. Di sini, Alya bukanlah anak yang diabaikan. Ia dikenal sebagai murid berprestasi, ketua klub sains, dan siswa yang sering membawa nama sekolah ke ajang perlombaan. Teman-teman dan guru-guru menghormatinya. Saat ia memasuki kelas, seorang temannya, Dinda, langsung menghampirinya. "Alya! Kamu udah siap buat ujian hari ini? Kayaknya ini bakal susah banget!" kata Dinda panik. Alya tersenyum kecil. "Aku sudah belajar semalam. Semoga saja bisa mengerjakan dengan baik." Dinda menghela napas. "Duh, enak banget jadi kamu. Pinter, rajin, selalu menang lomba. Orang tuamu pasti bangga banget, ya!" Ucapan itu membuat senyum Alya menegang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa tidak peduli berapa banyak piala yang ia menangkan, orang tuanya tidak pernah benar-benar peduli? Alya hanya tertawa kecil. "Iya, semoga saja." Gmn kelanjutan nya? Langsung baca aj yaa See you, semoga suka sama ceritanya >_- Dilarang keras plagiat karya gw⚠️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido