Hilang arah

Hilang arah

  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Sep 25, 2023
Leo memandang senja dengan begitu lekat. Dirinya kini duduk di tepi ombak yang dengan semilir angin yang menerpa dirinya. Leo membiarkan kakinya di basahi ombak. Seakan ombak bisa membawa pergi semua beban yang dia tanggung. "Tuhan gak mau ya lihat Leo bahagia?." "Kenapa Leo selalu tidak di izinkan bahagia?. " "Tuhan....Leo ingin bahagia.....Leo ingin bahagia."tidak terasa air mata kini membasahi pipi Leo. Leo melihat ke arah kanan, dimana mantan kekasihnya. Fandi, yang sudah menghancurkan separuh hidupnya bersama dengan seorang perempuan penghancur segala kebahagiaannya. Leo benci, benci mereka se besar besarnya. Tapi?, Mengapa sulit? Mengapa sulit sekali bagi Leo untuk sedikit pun menyakiti mereka?. Yang ada, Leo kembali tersakiti karena ulah mereka. "Mah, anak mu rapuh. Maafkan anak mu mah" Gep Pelukan hangat dari seseorang membuat Leo merasa sedikit lebih tenang. Leo tahu, siapa mereka. Seseorang yang selama ini selalu ada di dekatnya. Mecca, meyra, Agnes, eyli. Orang orang yang selama ini tidak Bernah meninggalkan Leo. "Jangan sedih dong, kita kan di sini buat senang senang." "Hilang kan semua beban mu kawan, sebentar lagi ada seseorang yang akan kesini."Leo menaikan satu alisnya seakan bertanya. Siapa? "Seseorang yang tidak akan membiarkan tuan putrinya hilang arah seperti ini. Seseorang yang akan menuntun tuan putri, menemani tuan putri, selama hidupnya." "Ce elah, kayak di dongeng aja"celetuk Agnes yang sedikit merusak suasana. "Leoooo"teriak seorang dari kejauhan. Leo terdiam melihat seseorang yang selama ini iya rindukan. Selama ini Leo tunggu kehadirannya. Leo telah menumpahkan semua harapannya. Kepada sang laki laki itu. "Kita mungkin belum mahram,. Tetapi, saya akan segera menghalal kan mu nona. Saya akan menemanimu sepanjang hidup saya. Tunggu saya kembali. Saya akan membawa mu pergi tanpa hilang arah." Leo sudah sedari tadi menangis mendengar kata demi kata yang di ucapkan laki laki itu. "Aku tunggu kehadiranmu"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Andira [End]
  • Antara Pagar dan Perasaan
  •  ANATHA
  • Thalia
  • A Symphony of life
  • Me And His Hopes
  • My Enemy is My Boyfriend
  • AKSA & AFNA
  • Imaginary Boyfriend
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines